Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Asale Desa Mulur Sukoharjo, antara Keraton Surakarta dan Pangeran Diponegoro

Sejarah dan asale Desa Mulur, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo.
SHARE
Asale Desa Mulur Sukoharjo, antara Keraton Surakarta dan Pangeran Diponegoro
SOLOPOS.COM - Waduk Mulur yang menjadi salah satu cerita asale Desa Mulur, Bendosari, Sukoharjo, memancing di waduk milik Pemprov Jawa Tengah (Jateng) tersebut, Minggu (19/1/2014). (Kurniawan/JIBI/Solopos).

Solopos.com, SUKOHARJO — Asale Desa Mulur, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, tak lepas dari cerita Raden Ajeng Serang dan Pangeran Diponegoro.

Desa Mulur, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo terdiri atas empat dusun, delapan rukun warga (RW) dan 35 rukun tetangga (RT). Mereka warga masyarakat tersebut bekerja sebagai petani.

PromosiAngkringan Omah Semar Solo: Spot Nongkrong Unik Punya Menu Wedang Jokowi

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, Kisah Desa Mulur bermula saat Putri Serang, atau Raden Ajeng Serang, mendapat keris dari Pangeran Diponegoro.

Keris tersebut dibuat untuk meneruskan jihad melawan Belanda bersama Senopati Imam Mukmin, dan pasukan Mujahidin Laksar Pangeran Diponegoro.

Perang berlarut-larut, hingga akhirnya Putri Serang beserta pasukannya mencoba mencari perlindungan di Keraton Surakarta. Saat itu, pihak keraton tidak berani terang-terangan melindungi karena pengaruh Belanda di Keraton cukup kuat.

Baca juga: Harga Pakan Naik, Petani Waduk Mulur Sukoharjo Kurangi Produksi Ikan

Putri Serang kemudian meninggalkan keraton dan mencari tempat persembunyian. Tempat persembunyiannya kemudian menjadi bumi perdikan.

Putri Serang, yakni Senopati Iman Mukmin, dan pengikutnya kemudian menuju arah tenggara. Perjalanan tersebut tercium Belanda, Belanda kemudian mencari mereka. Kisah tersebut menjadi dasar sejarah Desa Mulur.

Senopati Iman Mukmin kemudian menjadi tokoh legenda Desa Mulur, Mertan, dan Gua Mertan. Ia dikenal masyarakat Desa Mulur sebagai Mbah Saidiman (Kyai Saiyyid Iman), yang makamnya terletak di tengah Waduk Mulur.

Kasi Pemerintahan Desa Mulur, Rohman Eko Prasetyo, mengatakan menurut cerita tetua pada zaman dulu, asale Waduk Mulur di Desa Mulur ada kaitan dengan Keraton Surakarta. Namun, tidak terlacak siapa yang membuat.

Banyak orang mengatakan, Waduk Mulur dulunya milik keraton, namun sekarang dikelola Provinsi Jawa Tengah.

Baca juga: Anggota Bhayangkari Sukoharjo Tebar 11.000 Benih Nila di Waduk Mulur

Senopati Iman Mukmin oleh masyarakat sekitar dijuluki dengan nama Eyang Sayidiman. “Kata para sesepuh masih keturunan Sayyid [Nabi Muhammad], karena lidah orang Jawa menyebutnya jadi Sayidiman,” lanjut Rohman saat diwawancara belum lama ini.

Makam Senopati Iman Mukmin atau disebut dengan Eyang Sayidiman, diyakini ada di waduk Mulur. Letaknya ada di bukit kecil tengah waduk sebelah Utara.

Kades Mulur Sugeng Riyadi mengatakan, menurut cerita kakeknya yang merupakan seorang Carik, Desa Mulur dan Desa Jati dijadikan satu menjadi Desa Mulur.

“Dulu mbah saya carik, kantornya Desa Jati di tempat mbah saya, dulu ada Desa Jati dan Desa Mulur, kemudian dijadikan satu. Itu sejarah yang saya tahu,” kata Sugeng.

Baca juga: Kemarau, Petani Ikan di Waduk Mulur Sukoharjo Panen Lebih Awal

Berdasarkan cerita Sugeng, berarti bisa disimpulkan bahwa asale Waduk Mulu tak hanya berkaitan dengan Pangeran Diponegoro, tapi juga penggabungan antara Desa Mulur dan Desa jati.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode