Asal-Usul Semar, Nenek Moyang Orang Jawa

Menyingkap asal-usul Semar sebagai tokoh mitologi yang disebut nenek moyang orang Jawa adalah hal misterius.
SHARE
Asal-Usul Semar, Nenek Moyang Orang Jawa
SOLOPOS.COM - Ilustrasi tokoh pewayangan, Semar. (Youtube)

Solopos.com, SEMARANG — Menguak asal-usul Semar yang dianggap sebagai leluhur Tanah Jawa bukanlah hal mudah. Pasalnya ada beragam versi cerita menarik tentang tokoh tersebut.

Sejumlah hasil penelitian yang ditelusuri Solopos.com, Rabu (19/1/2022) menyebutkan Semar adalah nama tokoh utama Punakawan dalam pewayangan Jawa, Sunda, dan Bali. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat pasa ksatria dalam kisah Mahabatara dan Ramayana.

PromosiTop! Bos Tokopedia Masuk List Most Extraordinary Women Business Leader

Baca juga: Misteri Sosok Ki Semar Disebut Leluhur Tanah Jawa

Asal-usul Semar konon ditemukan dalam karya sastra zaman Kerajaan Majapahit bertajuk Sudamala. Dalam kisah itu, Semar disebut sebagai abdi dari Sadewa. Bukan sekadar abdi, dia juga dianggap sosok yang selalu menebar humor untuk memecahkan ketegangan.

Mahendra Sucipta dalam Kitab Lengkap Tokoh-Tokoh Wayang dan Silsilahnya (2016), Semar merupakan titisan Sang Hyang Ismaya. Suatu ketika dia diperintahkan turun ke dunia oleh Sang Hyang Tunggal. Hal itu membuatnya yang semula berwajah tampan berubah menjadi buruk rupa seperti wujud Semar yang dikenal dalam pewayangan. Namun ada juga cerita lain yang menyebut tubuh Semar berubah menjadi besar, gemuk, dan bundar karena menelan gunung.

Sementara menurut Dr G.A.J dalam buku Dunia Semar karya Ardian Kresna, asal-usul Semar asli dari Jawa. Semar adalah nama leluhur masyarakat Jawa yang bayangannya dipertunjukan dalam pewayangan yang bersifat religius. Dia juga dianggap sebagai nenek moyang orang Jawa dan tokoh kesayangan dari mitologi religis asli masyarakat Jawa.

Baca juga: Siapa Ki Semar Leluhur Tanah Jawa? Inikah Jawabannya?

Makna Nama Semar

Nama Semar konon berasal dari bahasa Arab, Ismar yang dalam pengucapan dialek Jawa menjadi Semar. Ismar berarti paku yang fungsinya sebagai penguat.

Semar juga dijuluki Badranaya. Badra berarti rembulan, naya artinya wajah atau nayantaka, sedangkan taka berarti pucat. Hal ini menunjukkan Semar memiliki watak seperti rembulan dengan wajah pucat. Artinya, Semar tidak mengumbar hawa nafsu.

Asal-usul Semar juga berkaitan dengan lambang visualnya. Bentuk wayang Semar yang bulat melambangkan tekad bulat untuk mengabdi kepada kebaikan dan kebenaran.

Baca juga: Gua Semar, Pertapaan Soeharto Cari Wangsit untuk Jadi Presiden

Jari kirinya selalu menunjuk, artinya dia memberikan petunjuk yang benar. Tangan kanannya menggenggam, yang artinya baik itu bersifat subjektif. Matanya setengah tertutup dan melihat ke atas yang dimaknai sebagai sosok idealis.

Dalam buku Cerita Galur Wayang Kulit Purwa Cirebon, mata sipit Semar menggambarkan orang yang senantiasa berzikir kepada Allah. Dagu dan mulutnya diikat dengan rantai sampai kaki yang mengandung makna segala ucapan manusia harus selaras dengan perilaku sehari-hari.

Semar juga memakai kuncung kencana sari yang berasal dari kata kun dan muncung atau muncul dan timbul, yaitu kunfayakun. Dengan gambaran tersebut, asal-usul Semar masih menjadi misteri sekaligus merupakan simbol kesempurnaan hidup.

Baca juga: Petilasan Ki Semar di Gunung Srandil Jadi Tempat Pesugihan?

Perspektif Spiritual

Semar digambarkan sebagai figur yang sabar, pengasih, pemelihara kebaikan, penjaga kebenaran, dan menghindari perbuatan tidak baik. Dalam perspentif spiritul dia memiliki watak yang sederhana, tenang, rendah hati, tulus, tidak munafik, tidak mudah kaget, tidak gampang heran, dan memiliki ketajaman batin serta kejeniusan.

Profesor Antropologi Sastra Universitas Negeri Yogyakarta, Suwardi Endraswara, menyebutkan dalam khazanah spiritual Jawa, Semar adalah samar-samar pelambang guru sejati. Semar dapat menjadi prersonifikasi hakikat guru sejati yang sejalan dengan konsep manunggaling kawula gusti.

Itulah sebabnya Semar dan tokoh Punakawan lainnya diceritakan sebagai pamomong para ksatria seperti dalam kisah Mahabarata dan Ramayana. Guru sejati dalam konteks ini adalah pengendali seseorang agar tetap berada di jalan yang benar.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago