Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Asal Usul Legenda Dusun Pancot Karanganyar, Berawal dari Sup Kelingking

Asal-usul Dusun Pancot di Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar tak lepas dari legenda raja kanibal bernama Prabu Baka dan pemuda gagah Putut Tetuko.
SHARE
Asal Usul Legenda Dusun Pancot Karanganyar, Berawal dari Sup Kelingking
SOLOPOS.COM - Warga di sekitar Lingkungan Pancot, Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar memanjat atap pendapa lingkungan setempat untuk mengambil ayam dalam tradisi Mondosiyo, Selasa (28/6/2022). (Solopos.com/Akhmad Ludiyanto)

Solopos.com, KARANGANYAR — Asal usul Dusun Pancot, Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar ternyata tidak lepas dari legenda setempat (local legends) yang beredar di masyarakat secara turun temurun.

Berada tepat di kaki Gunung Lawu, Dusun Pancot memiliki iklim yang sejuk, pengairan cukup, dan tanah vulkanik yang subur sehingga cocok ditanami sayur-sayuran.

PromosiNimo Highland, Wisata Hits di Bandung yang Mirip Santorini Yunani

Mengutip jurnal Forum Ilmu Sosial karya Hermianto (2013), terbentuknya Dusun Pancot tak lepas dari legenda seorang raja bernama Prabu Baka. Prabu Baka merupakan seorang raja dengan postur raksasa seperti Ratu Buta dalam cerita pewayangan.

Pada mulanya Prabu Baka merupakan raja yang disegani karena sangat peduli kepada rakyat. Karena itu daerah kekuasaannya memperoleh keamanan, kesejahteraan, ketenangan, dan ketentraman.

Perilaku Prabu Baka berubah saat kelingking juru masak istana secara tidak sengaja teriris pisau, dan masuk ke dalam sup yang yang akan dihidangkan untuk sang raja. Konon, sup yang dihidangkan terasa lebih lezat daripada biasanya.

Baca Juga: Konon Tempat Bersemayamnya Raden Brawijaya V, Ini Fungsi Candi Cetho

Prabu Baka pun bertanya apa rahasia kelezatan masakan yang dihidangkan kepada juru masak. Juru masak menjawab dengan takut-takut bahwa ketika memasak, jarinya tersayat pisau sehingga sebagian darah dan daging jarinya masuk ke dalam masakan.

Mendengar hal itu, hati raja menjadi senang dan ia menemukan resep kenikmatan makanannya. Ia memerintahkan peraturan baru untuk menyediakan seorang manusia agar dijadikan santapannya. Ia mencari warganya secara bergilir untuk dijadikan makanan. Apabila ada yang menentang, maka akan diberikan hukuman berupa siksa yang keras.

Akibatnya, penduduk yang merasa resah, pindah tempat tinggal untuk menyelamatkan diri mereka.

Suatu ketika, saat seorang janda dengan seorang anak perempuan bernama Mbok Randha memperoleh giliran untuk menyerahkan manusia, hari-harinya dilalui dengan penuh kesedihan. Setiap siang-malam, Mbok Randha dan anaknya selalu berdoa kepada Tuhan untuk memohon agar dijauhkan dari malapetaka.

Baca Juga: Jadi WBTB, Ini Sejarah Tradisi Dukutan dan Mondosiyo Tawangmangu

Hingga suatu hari, datanglah seorang pemuda gagah dan tampan dari pertapaan Pringgodani di Lereng Lawu yang bernama Putut Tetuka. Selama berada di desa, ia mendengar suara tangisan tiap melewati rumah Mbok Randha.

Putut Tetuko yang tergerak hatinya pun akhirnya mengetuk pintu rumah tersebut untuk mencari jawaban. Mbok Randha yang mengira itu adalah utusan Prabu Baka, dengan rasa takut membuka pintu dan menemukan sosok pemuda gagah itu.

Mbok Randha menceritakan kejadian yang menimpa warga desa dan dirinya kepada Putut Tetuka. Setelah mengetahui bahaya yang mengancam, Putut Tetuko ingin melawan Prabu Baka dengan cara menggantikan anak perempuan Mbok Randha sebagai santapan.

Tebas Leher

Pada hari Selasa Kliwon, Putut Tetuko tiba dengan diarak menuju kediaman Prabu Baka. Melihat pemuda gagah, tampan, dan tegap, Prabu Baka semakin bersemangat untuk segera menyantapnya.

Baca Juga: Ini Spot Wisata Petik Buah di Karanganyar yang Patut Dicoba

Prabu Baka berupaya menebas leher dan menyayat Putut Tetuko menggunakan senjatanya, namun gagal. Rupanya Putut Tetuko punya ilmu kebal. Sang pemuda kemudian baling menyerang Prabu Baka dan berhasil mengalahkan si raja kanibal tersebut.

Putut Tetuko mengambil batu gilang untuk dijadikan senjata. Tubuh Prabu Baka diinjak-injak dan ditancapkan ke bumi olehnya. Dari peristiwa itu nama Dusun Pancot diambil. Pancot atau pancat dalam bahasa Jawa artinya menancap ke bumi.

Dalam rangka menjaga keamanan desa dan rasa syukur atas kekalahan Prabu Baka, Putut Tetuka berpesan pada warga setempat untuk mengadakan bersih desa yang hingga kini dikenal dengan upacara tradisi Mondosiyo.

Tradisi Mondosiyo kini telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada 7 Desember 2021 lalu.

Baca Juga: Memaknai Acara Bur-Buran Ayam Nadaran Pada Tradisi Mondosiyo

Salah satu tokoh masyarakat Pancot, Sulardi, mengatakan dengan sudah berstatus WBTB tersebut seharusnya pemerintah berperan lebih besar terhadap tradisi yang sudah diselenggarakan secara turun temurun oleh warga setempat itu.

“Sampai hari ini masyarakat tetap semangat menjalankan tradisi ini. Harapannya dengan adanya WBTB ini masyarakat bisa bergandengan dengan pemerintah agar Mondosiyo tidak hanya seperti ini. Tapi dikemas lebih bagus dan meriah,” ujarnya di sela-sela pelaksanaan tradisi Mondosiyo Pancot, Selasa (28/6/2022) lalu.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode