Arah Kesenian Termutakhir

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 24 Juni 2021. Esai ini karya Damar Tri Afrianto, dosen di Institut Teknologi Telkom Purwokerto dan warga Sobat Ambyar Solo.
Arah Kesenian Termutakhir

Solopos.com, SOLO — Pemerintah beberapa waktu lalu meleburkan lembaga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Kementerian Riset dan Teknologi. Hal ini dapat dibaca sebagai agenda besar bidang kesenian–yang beririsan dengan kebudayaan–akan mendekatkan dirinya dengan persoalan riset dan teknologi sebagai  alternatif metode dan keluarannya.

Ini artinya bidang kesenian di  tingkat pendidikan formal dan ranah profesional bukan hanya pekerjaan olah kreativitas dan estetika, namun juga dibarengi wawasan riset dan korelasinya dengan teknologi. Budaya riset di bidang kesenian memang telah ada sejak hadirnya perguruan tinggi yang membuka fakultas seni.

Begitu juga dengan seniman-seniman Indonesia yang dekat dengan pengalaman empiris sebagai bahan riset dalam menciptakan karya. Bukan berarti dengan telah adanya budaya riset di dunia kesenian dapat melahirkan karya yang inovatif dan berdampak selayaknya ilmu-ilmu sains yang terlebih populer melaui temuan-temuannya.

Pada titik inilah budaya riset dalam kesenian dipacu kembali bukan hanya utuk melahirkan karya yang syarat dengan keagungan estetika, namun memiliki nilai guna secara praktis dan inovatif untuk pemecahan persoalan di tengah masyarakat.

Memandang praktik kesenian dengan cara kerja riset dan berbaur dengan teknologi bukan berarti akan membandingkan dengan cara kerja sains. Hadirnya satu lembaga yang membidangi pendidikan, budaya, riset, dan tekonologi berpeluang terintegrasi satu sama lain atau tidak terpisah-pisah.

Oleh karena itu, seni dan sains kan terwadahi dalam upaya mencari pendekatan setara karena, seperti diketahui, relasi seni yang berada di bawah payung humaniora dengan sains sejak lama terdapat critical distance yang membelah keduanya.

Riset Seni

Peluang pengembangan riset seni akan semakin mendapatkan tempat jika pendidikan dan kebudayaan serta riset dan teknologi bukan hanya melebur menjadi satu dalam lembaga formal, namun memiliki satu paradigma yang berlandasan aspek pendidikan dan kebudayaan, termasuk seni, dalam kerja-kerja riset untuk pengembangan.

Bagaimana meletakan kerangka seni dalam kerja-kerja riset? Perspektif seni tidak saja dipandang sebuah karya estetik, akan tetapi diletakan dalam konteks kehadiran secara utuh dan menyeluruh yang seyogianya dipahami secara mendalam.

Dalam hal ini perguruan tinggi telah melahirkan metodologi riset seni dalam klasifikasi metode untuk penelitian atau analisis seni maupun metode untuk menciptakan karya seni, namun metodologi itu serasa sangat eksklusif.

Hanya para calon sarjana yang mendapatkan askes pengetahuan itu. Sedangkan di luar kampus, metodologi itu seolah-olah tanpa daya menghadapi karya seni yang tumbuh secara kolektif, spontan, dan penuh improvisasi dalam sebuah kebudayaan rakyat.

Pendidikan dan kebudayaan serta riset dan teknologi punya peran besar tersebut, yakni mendiseminasikan bahwa seni memiliki kerangka riset. Seni tradisi dengan adanya kesadaran riset bukan hanya dapat mengembangkan dan beradapatasi dengan kemodernan.

Budaya riset mampu melacak jejak sejarah ketika nilai-nilai kemanusian ditetapkan dalam karya seni. Seniman tidak hanya menciptakan karya, namun juga berwawasan riset yang cukup sebagai modal kekayaan intelaktual.

Di sisi lain pendidikan dan kebudayaan serat riset dan teknologi harus terus mendorong perguruan tinggi seni merumuskan cara yang tepat, layak, dan dapat dipertanggungjawabkan untuk menjelajah, mengindentifikasi, memberi pemahaman, meganalisis, serta menjelaskan  seni dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya atau tercermin darinya.

Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknolgi sangat strategis membuat kebijakan dengan mengintergasikan  berbagai paradigma dalam  ilmu untuk menemukan paradigma baru yang dapat diterapkan dalam seni.

Seni dan Teknologi

Masa pandemi Covid-19 ini menjadi penanda bertemunya seni dan teknologi, pembatasan sosial dan ruang gerak yang terbatas, eksplorasi seni terhadap teknologi mendapatkan tempat, yang pada akhirnya disebut seni virtual. Teater, tari, seni rupa, dan seni musik perlahan-lahan menemukan identitas dan esensi baru di arena platform virtual.

Teknologi yang mewujud pada aspek virtual telah melebur menjadi seni itu sendiri, sebagaimana sifat seni yang plastis dan adapatif. Teknologi menjadi ide serta bahan eksplorasi sehingga seni-seni baru atau seni kontemporer lahir.

Bertemunya seni dan teknologi juga bukan hanya dilihat pada temuan-temuan seni kontemporer ekspresif, namun juga pada karya seni yang berdampak bagi masyarakat. Salah satu contoh karya seorang dosen Institut Seni Indonesia Solo yang menggunakan teknologi fasad cahaya atau video mapping sebagai media untuk membuat videografi iklan tentang protokol kesehatan pada masa pandemi ini.

Contoh lainnya adalah karya seorang mahasiswa Institut Seni dan Budaya Indonesia Sulawesi Selatan yang menggunakan teknologi kinestetik untuk seni paduan suara bagi tunarungu. Sangat mungkin teknologi mendorong seni untuk berdaya dan bermanfaat di tengah masyarakat.

Inilah tugas otoritas riset dan teknologi yang harus menemukan formula kebijakan yang tepat untuk menfasilitasi keterhubungan seni dan teknologi. Merunut mundur ke zaman Yunani, tak ada pemisahan sama sekali antara seni dan teknologi.  Seni dan teknologi hadir atas nama yang sama, yaitu techne.

Seni sama dengan kerajinan (craft), keterampilan (skill), dan teknik atau teknologi. Seniman era renaisans seperti Leonardo da Vinci membantu kita memberi gambaran bahwa semua berelasi secara intim. Da Vinci bisa dikatakan seniman sekaligus penemu dan sekaligus saintis.

Pada masa selanjutnya, zaman modern mengenal pemisahan itu dengan menarik teknologi pada mesin dan kepentingan produksi. Seturut dengan pendapat Stanislaus Yagni (2016), seni sering kali menjadi ”oposisi”; menelaah secara kritis teknologi yang menjelma mesin dan meringkas hubungan manusia sesungguhnya.

Pendek kata Yagni ingin mengungkapkan bahwa seni kadang kala berdiri sebagai ”oposisi” dari teknologi (mesin produksi, sistem kapital, dan sebagainya)yang kerap kali mengalienasi manusia. Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi tentu tidak akan menambah panjang keterbelahan seni dan teknologi pada era modern ini.

Kementerian ini justru harus memiliki peran menempatkan seni dan teknologi dalam proses bahu membahu dan beranjak untuk memihak manusia lagi. Bukan terpisah menjadi saling beroposisi sehingga salah satunya bisa masuk dalam jeratan kapital yang justru mendehumanisasi manusia itu sendiri.

Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago