Angka Stunting Karanganyar Ditarget Turun Jadi di Bawah 1%, Ini Upaya yang Dilakukan
Solopos.com|soloraya

Angka Stunting Karanganyar Ditarget Turun Jadi di Bawah 1%, Ini Upaya yang Dilakukan

Program intervensi pencegahan stunting di Karanganyar akan berjalan selama setahun penuh dengan pengawasan dari posyandu dan didukung pihak terkait.

Solopos.com, KARANGANYAR -- Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Karanganyar menjalankan program intervensi penurunan angka stunting pada tahun 2021 ini.

Ditargetkan pada 2022 mendatang risiko stunting di Karanganyar turun di bawah 1 persen dari total populasi anak. Kepala DP3AKB Karanganyar, Agam Bintoro, mengatakan pada tahun 2021 intervensi penurunan angka stunting di masyarakat merupakan salah satu dari tiga kegiatan yang dijalankan.

Langkah tersebut lantaran di Karanganyar risiko potensi stunting masih berada di angka 5 persen. Artinya, lima dari 100 kelahiran di Karanganyar berpotensi mengalami stunting atau kondisi tinggi badan anak lebih pendek dibandingkan rata-rata di usianya.

Baca juga: Vaksinasi Covid-19 Selama Ramadan di Karanganyar Tetap Pagi Hari

“Kalau di nasional itu angkanya masih 27 persen yang berarti 27 anak dari 100 kelahiran di Indonesia itu mengalami stunting dan ditarget turun jadi 14 persen pada 2024. Kalau di Karanganyar tergolong tidak terlalu tinggi cuma 5 persen. Jadi kami targetkan itu bisa 0 persen atau minimal di bawah 1 persen pada 2022,” jelas dia kepada Solopos.com, Kamis (15/4/2021).

Upaya yang dilakukan dengan pemantauan 1.000 hari kehidupan berdasarkan data informasi yang diberikan kader di masing-masing wilayah. Nantinya pada usia tersebut anak dan orang tua akan diintervensi dalam hal pemenuhan gizi untuk antisipasi terjadi stunting.

“Nanti sejak dalam kehamilan hingga usia 1.000 hari ada intervensi dari kami. Kemarin juga sempat ada usul dari masyarakat untuk pemberian paket pemenuhan gizi untuk warga kurang mampu. Kemungkinannya bisa dilakukan,” imbuh Agam.

Pengawasan dari Posyandu

Menurut Agam, program intervensi akan berjalan selama setahun penuh dengan pengawasan dari posyandu masing-masing wilayah. Menurutnya, upaya ini akan berhasil apabila didukung oleh semua pihak yang berkaitan.

“Penyebabnya ini struktural, bukan hanya satu penyebab saja. Jadi harus ada intervensi dari semua pihak termasuk dari kami, BKKBN, dan lainnya. Masalah stunting ini bukan hanya disebabkan ekonomi, tapi edukasi juga,” ucap dia.

Baca juga: 2020, 241 Anak di Karanganyar Menikah di Usia Dini

Seperti dikutip dari laman sehatnegeriku.kemkes.go.id, stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah.

Terdapat tiga hal penting dalam pencegahan stunting, yaitu:

1. Perbaikan Pola Makan

Istilah "Isi Piringku" dengan gizi seimbang perlu diperkenalkan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan, memperbanyak sumber protein sangat dianjurkan, di samping tetap membiasakan mengonsumsi buah dan sayur.

Dalam satu porsi makan, setengah piring diisi oleh sayur dan buah, setengahnya lagi diisi dengan sumber protein (baik nabati maupun hewani) dengan proporsi lebih banyak daripada karbohidrat.

2. Perbaikan Pola Asuh

Dimulai dari edukasi tentang kesehatan reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai cikal bakal keluarga, hingga para calon ibu memahami pentingnya memenuhi kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, serta memeriksakan kandungan empat kali selama kehamilan.

Baca juga: Bencana Alam Melanda Jatiyoso Karanganyar, Rumah Ketiban Longsor Saat Ditinggal Tarawih

Praktiknya, bersalin di fasilitas kesehatan, inisiasi menyusu dini (IMD) dan berupayalah agar bayi mendapat colostrum air susu ibu (ASI). Berikan hanya ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan.

Setelah itu, ASI boleh dilanjutkan sampai usia 2 tahun, namun berikan juga makanan pendamping ASI. Jangan lupa pantau tumbuh kembangnya dengan membawa buah hati ke Posyandu setiap bulan dan berikan imunisasi.

3. Sanitasi dan Akses Air Bersih

Biasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan.



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler

Espos Premium
Berita Terkini
Indeks

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago