Anggota DPR: Kurang Anggaran Bikin Digitalisasi Buku Solo Tak Maksimal

Wakil Ketua Komisi X DPR Agustina Wilujeng menyebut digitalisasi buku di perpustakaan Solo tidak maksimal karena kurang anggaran.
Anggota DPR: Kurang Anggaran Bikin Digitalisasi Buku Solo Tak Maksimal
SOLOPOS.COM - Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Agustina Wilujeng Pramestuti, didampingi Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, di Balai Kota Solo, Jumat (24/9/2021). (Solopos.com/Kurniawan)

Solopos.com, SOLO — Digitalisasi buku di berbagai perpustakan Kota Solo hingga saat ini tak berjalan maksimal. Anggota Komisi X DPR Agustina Wilujeng Pramestuti menyebut hal itu karena anggarannya kurang.

Perpustakaan sebagai penyedia berbagai referensi dan koleksi sumber informasi menjadi sentral rujukan pengembangan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa, peneliti, dosen, akademisi serta masyarakat umum.

Seiring perkembangan teknologi, perpustakaan berkembang dari konvensional menuju sistem yang lebih modern yakni perpustakaan digital. Kendati begitu, keterbatasan anggaran jadi kendala program digitalisasi buku, manuskrip, maupun rilisan fisik lain di Kota Solo.

Baca Juga: Tak Sanggup, Pengelola Serahkan Rusunawa Begalon I ke Wali Kota Solo

Dalam kunjungan kerja spesifik Komisi X DPR di Balai Kota Solo, Jumat (24/9/2021), Wakil Ketua Komisi X DPR, Agustina Wilujeng, menyebut kekayaan digital di Solo masih jauh dari harapan.

“Saya kira, karena kurang anggaran, karena digitalisasi membutuhkan anggaran yang cukup. Banyak sekali khasanah kuno yang bisa didigitalisasi, seperti koleksi Perpustakaan Pura Mangkunegaran atau Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat,” katanya.

Komisi X mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Solo memperbanyak digitalisasi aset berupa buku atau naskah itu. Kalau kaitannya dengan sastra Jawa kuno, Pemkot bisa bekerja sama dengqn Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang punya pusat studi sastra budaya Jawa.

Baca Juga: Populasi Kucing Jalanan Soloraya Naik saat Pandemi Corona, Mau Adopsi?

Bikin Audiobook

Digitalisasi juga bisa dilakukan dengan membikin audiobook atau buku suara agar lebih menyasar semua kalangan, khususnya tunanetra. Audiobook lebih banyak diterima karena pengaksesnya hanya perlu mendengarkan seolah sedang didongengkan.

“Ini adalah inovasi baru yang mungkin bisa menambah kekayaan literasi, selain gambar. Mereka yang mengakses tidak hanya tunanetra tapi kita bisa menikmati. Terutama anak-anak ketika mendengarkan, ada emosi yang terkoneksi, mungkin mereka yang butuh hiburan ingin mendengarkan dongeng, sehingga bikin lebih rileks,” ucap Agustina.

Ihwal minat baca yang rendah, Agustina menyebut perlunya teladan yang bisa memberi contoh anak muda mengenai pentingnya membaca. Proses ini tak instan melainkan harus ditumbuhkan.

Baca Juga: Pertandingan Pembuka Liga 2 di Stadion Manahan Solo Dijaga 350 Polisi

Pelajar bisa dipancing dengan memberikan tugas yang diharuskan membaca, baru bisa membudaya. Sementara itu, Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, mengatakan digitalisasi buku penting mengingat perpustakaan masih tutup di tengah Pandemi Covid-19.

Mereka yang ingin mengakses informasi maupun referensi bisa membuka perpustakaan digital. “Banyak masukan dari Komisi X, bahwa perpustakaan di Solo masih kurang digitalisasi. Beberapa bisa didigitalkan di antaranya literasi Jawa dan manuskrip kuno di Pura Mangkunegaran,” ujarnya.

Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago