Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Alasan Jembatan Jurug B Solo Dibongkar: Lebih Hemat Ketimbang Perbaikan

Ada sejumlah alasan kenapa Jembatan Jurug B Solo menggunakan struktur Callender Hamilton (CH) lebih baik dibongkar dan diganti ketimbang sekadar diperbaiki.
SHARE
Alasan Jembatan Jurug B Solo Dibongkar: Lebih Hemat Ketimbang Perbaikan
SOLOPOS.COM - proyek rehabilitasi jembatan Jurug B akan dimulai Oktober 2022 hingga Januari 2023. (Solopos/Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO — Biaya lebih hemat atau ekonomis menjadi alasan kenapa Jembatan Jurug B Solo diputuskan dibongkar dan diganti ketimbang sekadar diperbaiki. Selain itu, jembatan yang dibangun dengan struktur Callender Hamilton (CH) dari Inggris itu harus segera dibongkar karena sudah habis masa pelayanannya.

Jembatan Jurug B dibangun menggunakan teknologi CH yang merupakan standar Bina Marga pada tahun 1970. Alasan pemilihan teknologi Callander Hamilton saat itu karena desainnya yang ekonomis.

PromosiRekomendasi Merek Jeans Terbaik Pria & Wanita, Murah Banget!

Menurut Bambang Nurhadi, General Manager Konstruksi PT Baja Titian Utama sebagai Badan Usaha KPBU Penggantian dan atau Duplikasi Jembatan Rangka Baja Calender Hamilton di Pulau Jawa, ada berbagai faktor yang menjadi alasan Jembatan Jurug B Solo harus segera dibongkar dan diganti.

Meskipun sudah memasuki masa purna layanan sebagai jembatan, menurut Bambang Nurhadi, jembatan Jurug B sebenarnya masih bisa diperbaiki. Tetapi ongkos untuk perbaikan lebih mahal dibandingkan membuat jembatan baru.

“Untuk jembatan Callender Hamilton sudah selesai masa layanannya. Jembatan Jurug B dengan struktur Hamilton, sebenarnya bisa diperpanjang masa penggunaannya, misalnya dengan perkuatan eksternal. Namun pemeliharaannya juga akan mahal, jadi lebih baik diganti,” terangnya saat diwawancarai Solopos.com, Selasa (5/7/2022).

Baca Juga: Tenang Lur! Jembatan Jurug C Solo Diklaim Sangat Aman Dilewati 2 Arah

Selain itu, Muatan Sumbu Terberat (MST) yang bisa melewati jembatan CH hanya sekitar delapan ton. MST adalah jumlah tekanan roda dari satu sumbu kendaraan terhadap jalan. Beban tersebut selanjutnya didistribusikan ke fondasi jalan.

Perilaku Mengkhawatirkan

Bila daya dukung jalan tidak mampu menahan muatan sumbu, jalan akan rusak. Sedangkan saat ini, MST yang diperbolehkan di jalanan mencapai sepuluh ton.

“Sebenarnya jembatan rangka seperti CH tersebut dalam perencanaannya dulu diproyeksikan untuk bisa mengangkut MST delapan ton. Tetapi, perkembangan beban kendaraan sekarang sudah semakin berat. MST sekarang sudah mencapai 10 ton,” sambungnya.

Baca Juga: Jembatan Jurug B Solo Segera Dibongkar, Ini Rute Alternatifnya

Hasil penelitian Kementerian PUPR mengenai jembatan rangka baja CH di Pulau Jawa juga menjadi alasan Jembatan Jurug B Solo harus segera dibongkar dan diganti. Dari penelitian itu diketahui jembatan CH memiliki perilaku yang mengkhawatirkan.

Hal itu terlihat dengan adanya tegangan, lendutan, dan getaran pada jembatan yang menunjukkan adanya kelelahan bahan dari baja jembatan. Kondisi ini tidak lepas dari beberapa faktor seperti penambahan ketebalan aspal yang mengakibatkan beban .220 kg/m2 atau setara dengan 28 persen beban hidup merata yang harus dipikul jembatan.

Selain itu, lalu lintas di atas jembatan juga membuat adanya tambahan beban pada rangka baja. Hal ini dikhawatirkan akan membuat jembatan mengalami keruntuhan akibat overloading.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode