top ear
Arif Budisusilo
  • SOLOPOS.COM
    Arif Budisusilo

Akeh Apike

Tentang berfikir positif, ketimbang larut pada racun pikiran negatif. Tentang menebar harapan, ketimbang menabur virus ketakutan, apalagi kecemasan.
Diterbitkan Rabu, 17/02/2021 - 12:46 WIB
oleh Solopos.com/Arif Budisusilo
5 menit baca

Bersama beberapa rekan dari Solopos, kemarin, Selasa (9/2/2021) saya berkunjung silaturahim ke kantor sekaligus pabrik cat Weldon di Sukoharjo, yang berbatasan dengan ujung selatan Solo. Meski baru kali ini ketemu, bos sekaligus pemilik pabrik cat itu begitu ramah dan menyenangkan. Namanya Rudy Zulkarnain.

Pabrik cat tersebut didirikan Rudy bersama partnernya, dan sudah beroperasi sekitar 10 tahun. Ini adalah pabrik cat brand lokal, darahnya "merah-putih". Sepenuhnya dibangun dan dimiliki oleh pengusaha nasional.

Sebelum berbisnis sendiri, Rudy lama berkarier sebagai eksekutif pemasaran satu perusahaan alat berat. Lalu dia berpartner dengan rekan bisnisnya untuk membangun pabrik cat itu, sekitar 10 tahun silam. Dan terus terang, dari perbincangan sekitar satu jam di lokasi pabriknya itu, saya seperti banyak "belajar". Bukan sekadar tentang prinsip berbisnis, namun lebih banyak lagi ihwal filosofi kehidupan.

Maka saya harus terus terang, judul kolom ini saya pinjam dari tagline filosofis Rudy yang tertulis di kaus hitam yang dikenakannya saat menerima kunjungan kami: "Akeh Apike".

Dua kata itu sepertinya sederhana, tapi bagi saya maknanya amat mendalam. Tentang bersikap optimistis ketimbang terjebak pada laku pesimistis. Tentang berfikir positif, ketimbang larut pada racun pikiran negatif. Tentang menebar harapan, ketimbang menabur virus ketakutan, apalagi kecemasan.

Dan Rudy pun menjelaskan idiom itu dipakainya sebagai cara untuk menggerakkan energi positif. Alasannya jelas, energi negatif ibarat tikus yang akan mudah mengundang kawanan tikus-tikus yang lain, dan menggerogoti semangat untuk terus berlari, mengejar harapan.

Energi negatif, jika tidak diblok, akan bersifat merusak. Dampak kerusakannya barangkali seperti virus corona: mudah menyebar dan menginfeksi tubuh banyak orang, lalu menjadi penyakit mematikan.

Dan terbukti, perusahaan yang dimiliki dan dikelola Rudy mampu tumbuh signifikan, bahkan di tengah wabah Covid-19 yang menjadi momok menakutkan bagi banyak pelaku bisnis saat ini. Bahkan di saat banyak perusahaan mengalami penurunan penjualan, Rudy justru masih menikmati berkah. Penjualannya masih tetap meningkat.

Sederhana analisanya, bahwa di tengah pandemi Covid-19, orang lebih banyak waktu di rumah, sehingga lebih punya waktu untuk berbenah. Setidaknya mengecat rumah sendiri, sehingga berdampak positif pada penjualan ritelnya. Kebetulan, positioning usaha Rudy lebih banyak mengandalkan pasar ritel ketimbang proyek besar. Maka, filosofi "akeh apike" bertransformasi menjadi "akeh payune".

Dan di tengah krisis ekonomi akibat pandemi ini, justru Rudy berencana melakukan ekspansi untuk diferensiasi produk. Bukti bahwa "akeh apike" telah menjadi kredo yang menggerakkan.

***

Tentu saya sepakat dengan filosofi Rudy itu. Dan juga cara pandangnya dalam melihat keadaan. Kata anak-anak millenial saat ini, cara berfikir itu "aku banget". Sejalan. Cocok. Sepakat. Memang, kalau dikalkulasi secara statistik, kehidupan kita ini pasti "luwih akeh apike timbang olone". Lebih banyak kebaikan daripada keburukan.

Entah kalau mindset Anda yang terbalik: semua hal dilihat dari sudut pandang negatif, dan isi kepala Anda merekam lebih banyak keburukan daripada kebaikan. Atau kata orang bijak, tidak pandai bersyukur.

Dan dari kacamata bisnis, saya percaya mindset "akeh apike" ini menjadi resep manjur bagi keberhasilan. Terlebih pada situasi yang begitu menantang seperti hari-hari ini, tatkala kehidupan kita dihajar dari dua sisi: krisis kesehatan dan krisis ekonomi.

Ketika banyak orang melihat kondisi yang menyulitkan, tak sedikit lagi yang mencari celah sebagai peluang. Ada peluang keuntungan yang hilang, tapi ada pula potensi cuan yang datang.
Karakteristik orang yang isi kepalanya dipenuhi sudut pandang positif, selalu melihat peluang, bukan kesulitan.

Mereka melihat dari sudut pandang tantangan, bukan hambatan. Isi kepalanya: mencari jalan keluar, bukan memelihara kambing hitam.

Dalam konteks itulah, wabah Covid-19 ini akhirnya memang menjadi laboratorium kehidupan. Bagaimana keluar dari krisis yang sebenarnya krisis. Kita semua diuji dengan sekerasnya ujian: Krisis kesehatan dan krisis ekonomi yang tak terpisahkan.

Mungkin Anda pernah mendengar adagium ini: "The good leader has born from the difficulties". Setiap kesulitan itu menjadi ujian yang pas bagi seorang pemimpin. Tak ada strong leader yang lahir dari situasi nyaman-nyaman saja, atau enak-enak saja.

Maka, krisis kesehatan dan krisis ekonomi yang saat ini "besanan", merupakan kawah candradimuka yang pas untuk menempa kepemimpinan. Dan menempa keahlian manajemen strategis, baik di dunia bisnis, politik maupun birokrasi atau pemerintahan.

Dan saya percaya betul, mindset "akeh apike" yang merefleksikan sikap positif dan optimistis menghadapi situasi sesulit apapun, akan menjadi energi yang menggerakkan. Maka tak heran, sadar atau tidak, prinsip; "Akeh Apike" sejatinya telah melahirkan banyak praktisi bisnis dengan pendekatan baru di tengah pandemi Covid-19 ini.

Mereka ini adalah golongan para pebisnis atau leader yang mampu melihat situasi sulit sebagai peluang baghkan sumber cuan atau keuntungan. Terlebih yang mampu beradaptasi cepat, menyesuaikan diri dengan sigap.

Karenanya, saya percaya banyak sekali Rudy-Rudy yang lain di luar sana. Yang menggerakkan mesin sosial-ekonomi tetap terus berputar.

Maka saya jadi ingat cerita Iwan Lukminto, pemilik dan Presiden Direktur PT Sri Rejeki Isman Tbk. Pabrik tekstil terpadu dan terbesar di Asia Tenggara yang terkenal dengan nama Sritex itu, saat awal pandemi Covid-19 mulai berkecamuk tahun lalu, justru mendapat banyak peluang bisnis baru.

Ini berkat sikap positif dan keyakinan Iwan Lukminto untuk tidak melakukan pemutusan hubungan kerja alias PHK karyawan. Di tengah kegalauan saat pandemi Covid-19 baru beranjak naik, Iwan menemukan ide dengan diferensiasi produk: membuat masker. Motifnya cuma satu: agar mesin pabrik terus berputar dan karyawan tetap punya pekerjaan.

Niat baik untuk tidak melakukan PHK disertai keyakinan yang kuat itu menjadi "jalan Tuhan". Kendati ekspor terhenti dan anjlok hingga 70%, Sritex selamat berkat produk inovasi baru. Penjualan tetap naik, utamanya di pasar domestik yang mengalami lonjakan, terutama yang berasal dari produk masker. Tentu saja, profitabilitas terjaga dengan baik. Masker menjadi sang juru selamat.

Namun, bermanuver di tengah krisis memang bukan perkara gampang. Butuh intuisi dan nyali. Juga kejernihan hati. Kata kakek saya: kudu menep. Ora grusa-grusu. Sing manteb.

Game plan yang disusun bukan sekadar cepat, tapi juga cermat, dan tepat. Bukan sekadar bener, tapi juga pener. Namun, untuk bermanuver cepat juga perlu ditopang sense of creatifity alias daya kreatifitas. Selain itu, jangan sampai defisit daya inovasi. Dua kompetensi utama itu harus surplus. Semakin surplus, semakin mampu bertahan, bahkan kian kompetitif.

Sebaliknya, di era serba tidak pasti dan penuh guncangan perubahan lingkungan bisnis seperti hari-hari ini, perusahaan yang kehilangan daya kreativitas dan inovasi pasti akan sekarat. Yang terakhir ini sudah terbukti di banyak perusahaan yang kemudian megap-megap, lalu mati. Nah, bagaimana menurut Anda?


Editor : Profile Anik Sulistyawati
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com
Kata Kunci : #masker #COVID-19

berita terpopuler

Iklan Baris

berita terkini


Cek Berita Lainnya