Agar Maksimal, Papi Sarimah Solo Harus Ditopang Bank Sampah di Tiap RW

Program paksa pilah sampah dari rumah atau Papi Sarimah di Solo dinilai akan maksimal kalau ditopang dengan bank sampah minimal satu di tiap RW.
SHARE
Agar Maksimal, Papi Sarimah Solo Harus Ditopang Bank Sampah di Tiap RW
SOLOPOS.COM - Aktivitas pengumpulan sampah di Bank Sampah Kitiran Emas, RW 008, Kelurahan Purwosari, Laweyan, Solo. (Istimewa/Gropesh)

Solopos.com, SOLO — Pemerintah Kota (Pemkot) Solo diminta menyiapkan bank sampah minimal satu kelompok di tiap RW untuk menunjang penerapan program Paksa Pilah Sampah dari Rumah atau Papi Sarimah.

Seperti diketahui, Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, meminta agar program Papi Sarimah yang diinisiasi Pemerintah Kecamatan Banjarsari bisa diterapkan di empat kecamatan lain. Program itu dinilai sangat memudahkan dalam pengelolaan sampah di TPA Putri Cempo.

PromosiTop! Bos Tokopedia Masuk List Most Extraordinary Women Business Leader

Ketua Gerakan Orang Muda Peduli Sampah (Gropesh) sekaligus Ketua Komunitas Bank Sampah Kerjanyata Solo Raya, Denok Marty Astuti, kepada Solopos.com, Minggu (16/1/2021), mengatakan program Papi Sarimah akan maksimal jika ditopang dengan bank sampah dalam jumlah yang memadai.

Baca Juga: Papi Sarimah Solo, Warga Bingung Mau Salurkan Sampah Nonorganik ke Mana

Menurut Denok, pengelolaan sampah tak cukup hanya dengan memaksa warga memilah jenisnya dari rumah. Masyarakat juga perlu diedukasi agar peduli pada lingkungan dan mendapatkan tambahan income.

“Minimal satu RW satu bank sampah saya rasa sudah cukup menampung. Kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup memang satu RW satu [bank sampah],” katanya.

Menggerakkan Ekonomi Masyarakat

Sejauh ini, menurut Denok, program Papi Sarimah yang dibuat Pemerintah Kecamatan Banjarsari, Solo, melalui Surat Edaran (SE) Nomor LH.15.01/629.1, masih membingungkan. Pada poin 5 dalam SE tersebut dituliskan sampah daur ulang hasil pilahan dapat disalurkan ke bank sampah di wilayah sekitar tempat tinggal.

Baca Juga: Camat Jebres Solo: Penghuni Indekos Juga Wajib Ikut Aturan Papi Sarimah

Padahal, jumlah bank sampah di Solo yang aktif masih sedikit. Lebih lanjut, Denok, mengatakan mendukung program Papi Sarimah. Namun Standard Operating Procedures (SOP) yang dibuat Pemkot Solo harus jelas.

Selama ini yang menurutnya cukup ideal yakni pengelolaan lewat bank sampah. Melalui komunitas tersebut masyarakat lebih teredukasi, mereka juga jadi tahu muara sampahnya ke mana. Jika sudah terbentuk, bahkan bisa dibuat program rutin pengolahan sampah.

Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sementara nonorganik dijual untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Pengepul sebagai penampung sampah nonorganik bakal membawanya ke pabrik daur ulang. “Jangan sampai hanya dipilah, lalu muaranya ke TPA lagi. Ya sama saja,” tandasnya.

Baca Juga: Gibran Puji Papi Sarimah Banjarsari, Kecamatan Lain Diminta Meniru

Denok mengatakan jika dikelola dengan baik, bank sampah tersebut juga bakal menumbuhkan ekosistem yang baik soal pengelolaan sampah. Para pengepul sampah atau tukang rongsok digandeng untuk jadi mitra. Sehingga semuanya saling mendukung.

Warga Masih Bingung

Seperti diberitakan, program Papi Sarimah diterapkan di Kecamatan Banjarsari, Solo, mulai 1 Januari 2022. Kendati begitu belum semua warga paham betul mengenai program itu, termasuk ke mana harus menyalurkan sampah nonorganik yang dipilah.

Anet, 22, warga Banjarsari, Solo, mengaku masih bingung dengan program itu. Seingatnya surat tersebut diedarkan akhir Desember 2021 dan harus dilaksanakan per 1 Januari 2022.

Baca Juga: Program Paksa Pilah Sampah di Banjarsari Solo Dimulai, Begini Alurnya

Namun sampai hari ini belum semua masyarakat melaksanakannya karena kebingungan soal penyaluran sampah nonorganik atau dalam SE disebut sebagai sampah daur ulang. Sampah yang dimaksud di antaranya plastik, kertas, logam, kain, botol, minuman, alat elektronik dan lainnya.

Anet mengatakan awal Januari lalu ia sempat memilah sampah organik dan nonorganik yang disebut layak daur ulang. Ia dan sang ayah menyiapkan dua kantong sampah di depan rumah. Namun hal itu hanya berlangsung sekitar dua hari. Ia mengaku bingung ke mana harus menyalurkan sampah nonorganik yang sudah ditampung.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago