Agama dan Kemanusiaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 27 Mei 2021. Esai ini karya Joko Yuliyanto, penggagas Komunitas Seniman Nahdlatul Ulama, penulis buku dan naskah drama.
Agama dan Kemanusiaan

Solopos.com, SOLO -- Secara etimologis kata ”agama” terdiri dari kata ”a” yang artinya tidak dan ”gama” yang artinya kacau atau rusak. Agama berarti sebuah sistem atau aturan yang menjauhkan manusia dari tindak kekacauan atau kerusakan menuju keteraturan dan kedamaian.

Keterkaitan secara emosional mengenai keyakinan (agama) membuat pemeluknya bersikap fanatik untuk melindungi, membela, dan siap berperang dari ketertindasan. Dalam perkembangannya, dimensi agama memuat unsur kegaiban, perilaku sosial, kepemimpinan, dan juga situasi kedamaian.

Setiap agama melandaskan tujuan ketenteraman kehidupan di muka bumi. Menghindari konflik, kekerasan, dan peperangan mengatasnamakan agama. Sejarah perang atas nama agama terjadi karena motif politik untuk dominasi kekuasaan yang pada akhirnya mengabaikan nilai-nilai dalam ajaran agama itu sendiri.

Kehadiran manusia sebagai makhluk sosial yang menghendaki interaksi akan menyebabkan terjadinya konflik. Kemunculan perbedaan pendapatan atas pembenaran keyakinan akan berdampak pada perilaku perdebatan, anarkisme, hingga peperangan.

Konflik berasal dari bahasa Latin configere yang artinya memukul. Secara sosiologis maknanya adalah perilaku yang bertujuan menyingkirkan pihak lain. Benturan kepentingan dan tujuan secara individu atau kelompok menjadi sebuah keniscayaan dalam kehidupan sosial.

Hingga kemudian memunculkan teori: siapa yang kuat, dia yang akan bertahan. Kekuatan yang dimaksud bisa bersumber dari pengetahuan, kekayaan, pengaruh, pangkat, dan lain sebagainya. Kontradiksi mengenai konflik sebagai sisi naluriah seorang manusia yang hidup berkelompok dan agama yang bertujuan mengatur pengikutnya untuk menciptakan kedamaian sering dijadikan dalih politik untuk melawan pihak lain yang berbeda pandangan atau keyakinan.

Sampai akhirnya diskursus agama menjadi hal yang sensitif ketika dibahas di ruang-ruang publik. Pembahasan dihindari agar tidak menciptakan konflik yang bermula dari ketersinggungan atas keyakinan. Mengetahui betapa fanatiknya terhadap agama, banyak pihak memanfaatkan motif politik dengan melandaskan pada narasi-narasi keagamaan.

Puncaknya adalah melegalkan tindak kekerasan atas nama agama akibat idoktrinasi keyakinan tanpa kecakapan pengetahuan mengenai dasar keagamaan yang utuh. Sikap arogan dan emosional sering didahulukan tanpa berpikir panjang pada risiko dan dampak dari minimnya literasi nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Misi hadirnya agama bukan hanya tentang ritual dan metode sesembahan, melainkan terciptanya kehidupan yang damai dengan prinsip menghargai perbedaan sebagai sebuah keniscayaan.

Konflik Israel-Palestina

Beberapa hari lalu, bahkan sampai hari ini, pemberitaan mengenai perang Israel dan Pelestina menjadi headline media-media nasional. Tokoh politik, artis, dan ulama juga turut menyuarakan pandangan mengenai konflik Israel-Palestina yang sebenarnya terjadi sejak beberapa dekade yang lalu.

Peperangan terus berlangsung dalam periode tertentu yang membunuh ribuan penduduk sekitar. Ada beberapa motif terjadinya perang di negara-negara Timur Tengah, termasuk Israel-Palestina. Faktor pertama adalah sumber daya alam, khususnya minyak, yang menjadi daya tarik negara-negara superpower untuk memfasilitasi konflik di Timur Tengah.

Faktor kedua kultur sosiopolitik karena keberadaan enam suku di Timur Tengah (Arab, Yahudi, Parsi, Turki, Kurdi, dan Berber). Faktor ketiga adalah motif ideologi Suni, Syiah, dan Yahudi. Konflik Israel-Palestina adalah sebagian dari kompleksitas peperangan di Timur Tengah, yang mencakup perang saudara di Suriah, perang Arab Saudi-Yaman, perang Irak-Iran, dan peragnj di negara lain seperti Libanon, Sudan, Aljazair, Libya, hingga Somalia.

Banyak motif yang melatarbelakangi terjadinya konflik di Timur Tengah. Melekatkan perang Israel-Palestina dengan narasi perang agama hanya akan menciptakan konflik berkelanjutan di negara-negara plural seperti Indonesia. Dukungan terhadap Palestina juga perlu dilakukan dengan motif kemanusiaan dan terciptanya kedamaian di dunia.

Dukungan hendaknya bukan dengan memberikan bantuan untuk melakukan agresi terhadap Israel yang dampaknya adalah sikap membalas dan menimbulkan korban jiwa warga sipil di sana. Kini masih banyak yang mempersepsikan perang Israel-Palestina bermotif agama.

Negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim kencang menyuarakan sikap anti-Israel dengan narasi rasial di banyak platform media digital. Ada juga yang menyuarakan untuk lebih memperhatikan konflik dalam negeri sebelum mengurus konflik negara lain. Narasi penggalangan bantuan dana kepada Palestina ternyata malah mengalir kepada kelompok-kelompok teroris di sana.

Apapun perbedaan pandangan mengenai konflik Israel-Palestina adalah sebuah keniscayaan. Selebihnya, masyarakat bisa memilah kebijaksanaan melihat fenomena konflik di Timur Tengah. Jika sikap fanatik terhadap Palestina bermotif saudara seiman, masih banyak saudara seiman di dalam negeri yang butuh bantuan sosial. Jika motifnya adalah karena krisis kemanusiaan, perang Israel-Palestina harus dijadikan potret tentang banyaknya perang di Timur Tengah yang tidak mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan.

Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago