[x] close
top ear
Kondisi tempat pengolahan air bertenaga surya senilai Rp2,4 miliar berdiri di Dukuh Gunungsono, Desa Gilirejo, Kecamatan Miri, Sragen, Selasa (3/3/2020). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)
  • SOLOPOS.COM
    Kondisi tempat pengolahan air bertenaga surya senilai Rp2,4 miliar berdiri di Dukuh Gunungsono, Desa Gilirejo, Kecamatan Miri, Sragen, Selasa (3/3/2020). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)

Ada Fasilitas Pengolahan Air Bersih Bertenaga Surya, Warga Sragen Bayar Air Lebih Murah

Warga Dukuh Gunungsono, Desa Gilirejo, Kecamatan Miri, Sragen memanfaatkan fasilitas pengolahan air bersih.
Diterbitkan Kamis, 5/03/2020 - 21:30 WIB
oleh Solopos.com/Muh Khodiq Duhri
2 menit baca

Solopos.com, SRAGEN – Fasilitas pengolahan air bersih bertenaga surya berdiri pada lahan berukuran 20 x 12 meter persegi di Dukuh Gunungsono, Desa Gilirejo, Kecamatan Miri, Sragen. Lahan tempat berdirinya fasilitas umum itu awalnya tercatat sebagai tanah hak milik dari Sadiyo, 63, warga setempat.

Demi terwujudnya fasilitas pengolahan air bersih senilai Rp2,4 miliar itu, Sadiyo rela menghibahkan tanahnya tersebut untuk kepentingan publik. “Saya memang dapat biaya ganti rugi, tapi besarnya ala kadarnya. Tanah itu saya wakafkan untuk kepentingan umum. Saya niati untuk membantu banyak orang di sini,” ujar Sadiyo kala ditemui Solopos.com di lokasi, Selasa (3/3/2020).

Gunung Merapi Stabil, Warga Tetap Dipantau

Sebanyak 200 keluarga kini bisa menikmati air bersih hasil penyulingan dari air Waduk Kedung Ombo (WKO). Warga hanya cukup membayar iuran wajib Rp5.000/bulan plus berapa meter kubik air yang mereka ambil. Untuk satu meter kubik air, warga cukup membayar Rp1.000.

Biaya yang harus dikeluarkan oleh warga itu jauh lebih murah dari biaya pemanfaatan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Sekadar catatan, tarif dasar air di PDAM Sragen saat ini mencapai sekitar Rp4.500/meter kubik.

Bikin Merinding! Ada Sosok Botak Bertaring di Stasiun Solo Kota

“Fasilitas pengolahan air bersih itu dibangun oleh lembaga amal yakni Baznas. Dengan begitu, tidak ada kepentingan bisnis di sini. Karena dikelola oleh warga sekitar, tarifnya jelas lebih murah,” papar Joko Murtanto, 40, warga sekitar.

Kepala Desa Gilirejo, Parjo, mengatakan pembangunan fasilitas pengolahan air bersih bertenaga surya itu sengaja melibatkan warga sekitar. Warga juga iuran untuk menyediakan 10 tempat penampungan air masing-masing dengan kapasitas 10.000 liter.

Tanpa Derbi Mataram di Fase Grup Liga 2, Begini Komentar Pelatih Persis Solo

Fasilitas pengolahan air bersih Sragen itu dikerjakan secara gotong royong oleh warga sekitar. Dengan dilibatkannya warga dalam proses pembangunan, diharapkan warga bisa merasa memiliki sehingga mau merawatnya.

“Perkiraan, peralatan penyulingan air bertenaga surya itu bisa bertahan hingga lima tahun. Warga sengaja dilibatkan dalam proses pembangunan supaya mereka memiliki rasa handarbeni. Dengan begitu, mereka punya tanggung jawab untuk merawat karena mereka juga ikut membangun fasilitas itu. Kalau mereka tidak dilibatkan dalam proses pembangunan, mungkin warga acuh tak acuh,” paparnya.


Editor : Profile Ahmad Baihaqi
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini