top ear
Tujuh napi bebas bersyarat berfoto dengan para sipir di LP Kelas II A Sragen, Kamis (26/12/2019). (Solopos-Moh. Khodiq Duhri)
  • SOLOPOS.COM
    Tujuh napi bebas bersyarat berfoto dengan para sipir di LP Kelas II A Sragen, Kamis (26/12/2019). (Solopos-Moh. Khodiq Duhri)

7 Napi LP Sragen Bebas Bersyarat

Untuk bebas, napi harus memenuhi syarat.
Diterbitkan Kamis, 26/12/2019 - 15:58 WIB
oleh Solopos.com/Muh Khodiq Duhri
2 menit baca

Solopos.com, SRAGEN — Tujuh narapidana (napi) di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIA Sragen bebas bersyarat per Kamis (26/12/2019). Setelah bebas, mereka diwajibkan mengikuti apel di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Solo.

Kasi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik, LP Kelas IIA Sragen, Agung Hascahyo, mengatakan dasar hukum pembebasan bersyarat bagi tujuh napi itu adalah surat edaran (SE) dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) yang diterima November lalu.

Dalam SE itu, Kemenkumham meminta semua pengelola LP mengusulkan pembebasan bersyarat, cuti menjelang bebas, cuti bersyarat bagi napi tertentu. Program itu berlaku untuk napi yang sudah memenuhi syarat administrasi dan syarat substantif.

“Pada gelombang I ini, kami mengusulkan 19 napi bisa bebas bersyarat. Usulan itu turun [disetujui] semua. Tujuh napi di antaranya bebas pada hari ini. Mereka terdiri atas dua napi kasus narkoba, empat napi kasus pencurian dan satu napi kasus penipuan. Program percepatan pelaksanaan pembebasan bersyarat maupun cuti bersyarat itu dilaksanakan serentak secara nasional,” jelas Agung Hascahyo saat ditemui solopos.com di kantornya.

Agung menegaskan pembebasan maupun cuti bersyarat itu tidak berlaku bagi napi yang dikenai ketentuan dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 99/2012 tentang Perubahan Kedua Atas PP No. 32/1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan.

Pembebasan maupun cuti bersyarat itu juga tidak berlaku bagi napi yang tersangkut kasus tindak pidana korupsi dan napi dari kalangan warga negara asing (WNA).

Baca: Mobil Nyemplung ke Parit di Taraman Sragen

“Sejak ditangkap pada 4 Oktober 2018 lalu, masa pidana saya sebetulnya berakhir dua bulan lagi [Februari 2020]. Saya tentu senang bisa bebas lebih cepat,” ujar Hardiyanto, 30, warga Desa Pucangan, Kartasura, Sukoharjo.

Hardiyanto yang terjerat kasus peredaran narkoba mengaku sudah kapok.


Editor : Profile Rohmah Ermawati
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terpopuler

Iklan Baris

berita terkini


Cek Berita Lainnya