Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

5 Proyek Bendungan Besar di Jawa Tengah

Inilah lima proyek bendungan besar berkala nasional di wilayah provinsi Jawa Tengah.
SHARE
5 Proyek Bendungan Besar di Jawa Tengah
SOLOPOS.COM - Air tampungan Waduk Pidekso, Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri, sudah menggenai area dalam pintu bendungan utama atau spillway. Foto diambil Jumat (21/1/2022). (Solopos.com/Rudi Hartono)

Solopos.com, SEMARANG — Pembangunan besar-besaran terjadi di wilayah provinsi Jawa Tengah dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Salah satu proyek strategis nasional (PSN) yang digarap di Jawa Tengah adalah bendungan.

Dalam catatan Solopos.com, setidaknya ada empat proyek pembangunan bendungan di Jawa Tengah yang termasuk PSN. Berikut perinciannya:

PromosiGelaran B20 di Jawa Timur Fokus pada Rantai Pasok UMKM

  • Bendungan Bener Purworejo

Bendungan Bener di Purworejo, Jawa Tengah adalah salah satu proyek strategis nasional (PSN) dalam rangka mendukung program ketahanan pangan nasional. Proyek ini konstruksinya dimulai dari 2018 dan ditargetkan beroperasi pada 2023.

Bendungan tersebut nantinya bakal memiliki kapasitas sebesar 100,94 meter kubik dan diharapkan dapat mengairi lahan seluas 15.069 hektar (Ha). Bendungan yang membentang dari Kabupaten Purworejo hingga Wonosobo ini merupakan yang tertinggi di Indonesia dan paling tinggi kedua di Asia.

Baca juga:Kenapa Bendungan Bener Purworejo Butuh Batu Andesit dari Desa Wadas? 

  • Waduk Gondang Karanganyar 

Bendungan Gondang di Karanganyar, Jawa Tengah merupakan salah satu dari program pembangunan 65 bendungan yang bertujuan menambah kapasitas tampungan air sehingga keberlanjutan suplai air irigasi ke sawah terjaga. Kehadiran bendungan ini juga memiliki potensi air baku, energi, pengendalian banjir, dan pariwisata yang akan menumbuhkan ekonomi lokal.

Waduk ini mengairi lahan seluas 4.680 hektare di wilayah Kabupaten Karanganyar dan Sragen. Selain sebagai irigasi, manfaat lainnya adalah menjadi sumber air baku bagi Kabupaten Karanganyar dan Sragen masing-masing sebesar 100 liter/detik, mereduksi debit banjir sebesar 6,74% dari 639,22 m3/detik menjadi 596,12 m3/detik dan menghasilkan listrik sebesar 0,327 MW, konservasi air (groundwater recharge), destinasi wisata, dan sebagai kawasan konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Garuda.

Baca juga: Pipa dari Waduk Gondang Kelar Dipasang, Pasokan Air Bersih Sragen Aman

  • Bandungan Jlantah

Bendungan Jlantah ini ditarget menghasilkan air baku sebesar 150 liter/detik, serta mampu mengairi lahan seluas 1.493 Ha di kawasan Kecamatan Jatiyoso, Jumapolo, dan Jatipuro. Bendungan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah ini dirancang dengan kapasitas tampungan total sebanyak 10,97 juta m3.

Bendungan ini juga dapat dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) sebesar 0,625 mega watt, pengendalian banjir, serta konservasi pariwisata di wilayah Kabupaten Karanganyar.

Baca juga: Terdampak Proyek Waduk Jlantah Karanganyar, Pemdes Karangsari Kesulitan Cari Sawah 6.000 Meter Persegi

  • Waduk Pidekso Wonogiri

Bendungan Pidekso di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah konstruksinya telah dimulai sejak 2015. Bendungan multifungsi ini memiliki daya tampung 25 juta m3 dan direncanakan mampu mengairi lahan seluas 15.519 Ha dan suplai air baku sebesar 300 liter/detik. Biaya pembangunan waduk yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada Desember 2021 ini mencapai Rp730 miliar.

  • Bendungan Randugunting Blora

Bendungan Randugunting di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, menjadi penyuplai air untukl lahan seluas seluas 630 Ha. Waduk ini juga menjadi pemasok air baku sebesar 150 liter per detik serta destinasi wisata di Kabupaten Blora.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode