[ X ] CLOSE

5 Agrowisata di Soloraya ini Menarik Dikunjungi

Keberadaan agrowisata di Soloraya itu diharapkan bisa membawa multiplier effect yang membawa berkah bagi warga sekitar.
5 Agrowisata di Soloraya ini Menarik Dikunjungi
SOLOPOS.COM - Kepala Desa (Kades) Pasung, Kecamatan Wedi, Sumarsono, saat mengecek buah nangka di desanya, Sabtu (25/9/2021). Guna kawula muda agar bersedia menjadi petani milenial, Pemdes Pasung mulai mengembangkan agrowisata. (Ponco Suseno/Solopos)

Solopos.com, SOLO — Soloraya ternyata kaya akan potensi wisata khususnya di bidang pertanian.

Berikut Solopos.com sajikan daftar agrowisata menarik yang layak dikunjungi di Soloraya.

1. Agrowisata Pasung, Klaten
Desa Pasung, Kecamatan Wedi, mengembangkan agrowisata, sejak empat tahun terakhir. Hingga sekarang, Desa Pasung telah memiliki lebih dari 1.000 tanaman buah yang berada di pinggir jalan utama di desa setempat.

Kepala Desa (Kades) Pasung, Kecamatan Wedi, Sumarsono, mengatakan gagasan membikin agrowisata di desanya bermula dari kondisi riil di lapangan, yakni semakin sedikitnya petani muda.

Guna menarik minat petani milenial, Pemdes Pasung ingin memanfaatkan lahan yang ada di desanya sebagai tempat mengembangkan pertanian.

Baca Juga: Agrowisata Desa Pasung Klaten Punya Koleksi 1.000 Lebih Tanaman Buah

“Akhirnya kami kembangkan agrowisata berupa penanaman buah-buahan di kanan-kiri jalan utama. Sejak empat tahun ini, sudah ada lebih dari 1.000 tanaman buah yang kami tanam. Jenisnya ada nangka, kelengkeng, mangga, belimbing, jambu. Apa yang kami lakukan ini guna mewujudkan desa agrowisata yang akan di-launching 2022,” kata Sumarsono, kepada Solopos.com, Sabtu (25/9/2021).

Sumarsono mengatakan desa agrowisata akan dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) Lumintu yang sudah berdiri sejak tiga tahun lalu. Ke depan, konsep agrowisata di Pasung juga dilengkapi fasilitas rest area, sentra kuliner, dan pancingan.

“Dari sub-sub yang sudah berjalan itu baru pemancingan [Pancingan Tirto Mili]. Semoga dengan cara seperti ini, kami bisa menarik kawula muda menjadi petani milenial. Dalam konsep agrowisata itu juga ada pemberdayaan masyarakatnya,” katanya.

2. Agrowisata Kaliwedi Sragen
Pemerintah Desa (Pemdes) Kaliwedi, Gondang, Sragen, mengembangkan desanya menjadi desa wisata berbasis agrobisnis di bawah pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) Karya Mandiri.

Bahkan, konsep pengembangan desa agrowisata Kaliwedi itu dianggap tidak kalah dengan Dayu Park milik keluarga Bupati Sragen.

Setelah membangun Water Boom Jambangan Permai senilai Rp1,2 miliar pada 2020, Pemdes Kaliwedi membangun lagi kolam renang dewasa dengan total dana mencapai Rp750 juta.

Baca Juga: Agrowisata Desa Pasung Klaten Punya Koleksi 1.000 Lebih Tanaman Buah

Bupati Klaten Kusdinar Untung Yuni Sukowati menyerahkan bibit tanaman kelengkeng kepada perwakilan warga untuk pengembangan kebun kelengkeng.

Kepala Desa Kaliwedi, Gondang, Sragen, Daryono, mengatakan selain berwisata air, pengunjung bisa menikmati gowes yang keliling desa dengan melihat kebun kelengkeng, tanaman melon milenial di empat unit green house.

Ada pula wisata produk UMKM, ternak kambing, ternak sapi, dan ternak lele sebagai pendukung pengembangan agrowisata dan lain-lain.

3. Agrowisata Sigit Sragen

Wisata Petik Kelengkeng di Sragen
Kepala Desa Sigit, Kecamatan Tangen, Wardoyo, menunjukkan buah kelengkeng yang sudah layak panen di kebun seluas empat hektare di desa setempat, Minggu (19/4/2020). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)

Setelah sukses membudidayakan tanaman buah kelengkeng pada tanah kas desa seluas 4 hektare (ha) sejak 2014, Pemerintah Desa (Pemdes) Sigit, Kecamatan Tangen, Sragen, mulai membudidayakan tanaman porang pada lahan seluas 3 ha.

Ini adalah kali pertama tanaman porang dibudidayakan di Desa Sigit. Sebelumnya, Pemdes Sigit bekerja sama dengan kelompok petani telah membudidayakan tanaman kelengkeng, jambu kristal dan durian.

Baca Juga: Bupati Sragen Pun Penasaran Dengan Kelengkeng Rasa Durian di Kebun Desa Sigit

Akan tetapi, tanaman durian pada akhirnya mati karena dinilai tidak cocok dibudidayakan di Desa Sigit. Saat musim panen tiba, wisatawan bisa menikmati sensasi makan buah kelengkeng yang langsung dipetik dari pohonnya.

4. Agrowisata Pasar Ciplukan Karanganyar

Pasar Ciplukan, Mojogedang, Karanganyar. (Solopos/Sri Sumi Handayani)
Pasar Ciplukan, Mojogedang, Karanganyar. (Solopos/Sri Sumi Handayani)

Warga Millir RT 001/ RW 013, Gentungan, Mojogedang, Karanganyar, mengembangkan destinasi agrowisata dengan mendirikan Pasar Jadul Ciplukan.

Pasar Jadul Ciplukan mulai beroperasi sejak Agustus 2020 untuk memberikan wadah bagi masyarakat yang ekonominya terdampak pandemi Covid-19.

Hingga saat ini, Pasar Jadul Ciplukan masih terus beroperasi setiap akhir pekan dengan menawarkan jajanan khas zaman dulu seperti tiwul, nasi jagung, jadah, wedang uwuh, dan lainnya.

Baca Juga: Intip Keunikan Pasar Jadul Ciplukan Karanganyar, Pakai Ketip Buat Transaksi Jual Beli

Sistem pembayaran yang diterapkan pun unik, pengunjung diwajibkan menukar uang dengan koin khusus senilai Rp2.000 per keping.

Ketua Desa Wisata Lembah Dungde, Mulyono, mengatakan sejak awal dibuat, jumlah pedagang di Pasar Jadul Ciplukan sudah mencapai 30 orang. Para pedagang yang berjualan menurutnya hanya warga setempat dan tidak dibolehkan dari luar kampung.

Mulyono menargetkan, ke depannya jumlah warga yang ikut berpartisipasi terus bertambah dibandingkan saat ini.

5. Agrowisata Kedoeng Jangan Karanganyar

Upaya meningkatkan taraf ekonomi warga dilakukan oleh banyak kelompok di Karanganyar di tengah goncangan pandemi Covid-19.

Salah satunya dilakukan oleh Kelompok Usaha Jaya Mandiri yang berisi para petani di Dusun Dungjangan RT 003/ RW 002, Ngadiluwih, Matesih, Karanganyar.

Mereka resmi meluncurkan agrowisata Kedoeng Jangan yang menawarkan sensasi pemandangan persawahan dan pengalaman bercocok tanam setelah Lebaran 2021 lalu.

Baca Juga: Desa Ngadiluwih, Karanganyar, Genjot Pertanian Organik, Bagaimana Caranya?

Tak hanya itu saja, pengelola juga memiliki misi meningkatkan taraf ekonomi warga setempat dengan memberdayakan masyarakat untuk berjualan saat malam hari di tempat tersebut.

Sistem penerangan yang cukup bagus mendukung ekosistem pengembangan pusat kuliner tradisional di kawasan wisata yang baru dibentuk tersebut.

Sawah yang awalnya gelap gulita dikala malam hari disulap menjadi surga kuliner yang instagramabel lantaran dihiasi lampu led di sepanjang jalan di tengah sawah dan shelter makanan.

Baca Juga: Dukung Pertanian Organik, Pemdes Sukorejo Sragen Akan Bangun Kadang Sapi dan Kolam Lele di Sawah

“Kami memang sudah merencanakan dari awal, kalau siang hari bisa buat foto-foto dan program wisata, kalau malam berubah menjadi pusat wisata kuliner yang pedagangnya dari warga setempat saja. Memang misinya untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat,” jelas Koordinator Kelompok Usaha Jaya Mandiri, Wardiyanto, kepada Solopos.com Senin (24/5/2021).



Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago