4 Keunikan Salatiga, Salah Satunya Kota Paling Toleran di Indonesia

Salatiga berdiri pada 24 Juli 750 Masehi sehingga usianya sudah lebih dari 1000 tahun. Bukti berdirinya kota ini berdasarkan prasasti Plumpungan yang berada di Desa Kauman Kidul,
4 Keunikan Salatiga, Salah Satunya Kota Paling Toleran di Indonesia

Solopos.com, SALATIGA — Sebagai salah satu kota yang diapit dua kota besar, yakni Semarang dan eks-Keresidenan Soloraya, Salatiga dengan luas 56,7 km2 ini rupanya memiliki banyak keindahan karena lokasinya yang berada di kaki Gunung Merbabu.

Mengutip Liputan6.com, Kamis (22/7/2021), panorama keindahan Kota Salatiga ini ternuata telah diakui sejak lama, tepatnya pada masa kolonialisme Belanda. Saat itu pemerintahan Hindia Belanda menjulugi Salatiga sebagai kota terindah di Jawa Tengah.

Selain sebagai kota terindah, ada julukan lain yang disematkan untuk kota  asal  aktor senior Roy Martin dan Rudy Salam ini. Berikut ini 4 keunikan Salatiga:

Nama ‘Salatiga’ berarti 3 kesalahan

Asal mula nama Salatiga tidak lepas dari kisah Ki Ageng Pandanaran, seorang Adipati Semarang di masa Kesultanan Demak yang ikut mengembara bersama Sunan Kalijaga. Dalam perjalanan itu, Sunan Kalijaga meminta Ki Ageng meninggalkan seluruh harta bendanya.

Walaupun sang Adipati mampu menepati janjinya, sang istri rupanya masih melanggar kesepakatan itu dengan memasukan emas dan berlian ke dalam tongkat. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan sekawanan perampok dan Sunan Kalijaga mengizinkan para perampok itu untuk mengambil harta benda dan para perampok itu mengambil tongkat yang berisi berlian dan emas milik istri adipati itu.

Setelah peristiwa itu, Sunan Kalijaga berkata berkata kepada Ki Pandanaran dan istrinya bahwa dirinya akan menamakan tempat di mana mereka dirampok dengan nama ‘Salatiga’ yang diambil dari 3 kesalahan Ki Pandanaran dan istrinya, yaitu kikir, sombong dan menyengsarakan rakyat.

Salah satu kota tertua ada di Salatiga

Salatiga berdiri pada 24 Juli 750 Masehi sehingga usianya sudah lebih dari 1.000 tahun. Bukti berdirinya kota ini berdasarkan prasasti Plumpungan yang berada di Desa Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo. Prasasti itu juga menjelaskan bahwa Salatiga awalnya adalah tanah perdikan bernama Hampra.

Tanah perdikan merupakan tanah pemberian raja yang diberikan kepada daerah yang dianggap berjasa kepada pemimpinnya. Rakyat yang menetap di sana dibebaskan dari membayar pajak atau upeti.

Tanah perdikan atas wilayah Hampra itu diberikan oleh Raja Bhanu, seorang raja besar yang daerah kekuasaannya meliputi Salatiga, Kabupaten Semarang, Ambarawa, dan Boyolali. Berdasarkan pada Perda No. 15 tahun 1995, penetapan tanah perdikan oleh Raja Bhanu itulah yang menjadi dasar tanggal lahir Kota Salatiga.

Salah satu kota paling toleran di Indonesia

Predikat yang diberikan oleh Setara Institute for Democracy and Peace sebagai salah satu Kota Tertoleran kedua setelah Kota Singkawang telah terimplementasikan secara nyata dalam kehidupan beragama masyarakat Kota Salatiga. Dengan komposisi pemeluk agama yang variatif, Salatiga terus berupaya memberi ruang yang sama bagi seluruh masyarakat untuk beribadah, berekspresi, mengaktualisasikan diri, dan lain sebagainya.

Indonesia Mini

Salatiga juga dijuluki Indonesia mini disebabkan banyak warga pendatang dari daerah lain yang beragam. Mayoritas para pendatang berasal dari Pulau Sulawesi, Kalimantan, Aceh, Medan, Bali, NTT, NTB, Maluku, Papua hingga Tiongkok untuk menuntut ilmu di sebuah universitas swasta di Salatiga, yaitu UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana).

Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago