top ear
Ilustrasi kegiatan PSHT Pusat Madiun (Istimewa/Pemkot Madiun)
  • SOLOPOS.COM
    Ilustrasi kegiatan PSHT Pusat Madiun (Istimewa/Pemkot Madiun)

2 Anggota Dikeroyok, Warga PSHT Sragen Diminta Tanggalkan Atribut Saat Keluar Rumah

Warga PSHT Sragen Sragen diminta menanggalkan atribut saat keluar rumah setelah ada dua anggota yang dikeroyok di wilayah Sragen.
Diterbitkan Rabu, 30/09/2020 - 16:24 WIB
oleh Solopos.com/Muh Khodiq Duhri
2 menit baca

Solopos.com, SRAGEN — Ribuan anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Sragen Parluh 16 diimbau menanggalkan atribut, baik itu seragam atau bendera perguruan silat, saat pergi ke luar rumah. Imbauan itu diutarakan setelah ada dua warga PSHT yang dikeroyok di Sragen.

Penegasan itu disampaikan Ketua PSHT Sragen Parluh 16, Surtono. Langkah itu diambil pria 67 tahun itu menyikapi kasus penganiayaan terhadap dua anggotanya di Desa Pilangsari, Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Senin (28/9/2020) malam.

Surtono menjelaskan imbaun untuk menanggalkan atribut perguruan itu disampaikan kepada anggota melalui video broadcast. Kepada warga PSHT Parluh 16, Surtono meminta atribut perguruan untuk sementara hanya boleh dipakai saat acara penting atau latihan.

Pulang Latihan, 2 Anggota PSHT Dikeroyok di Sragen & 1 Ponsel Dirampas

Setelah itu, atribut itu harus ditanggalkan saat bepergian keluar rumah baik itu pada siang atau malam hari.

"Pakailah atribut itu saat diperlukan atau saat ada acara penting atau saat latihan. Kalau keluar rumah, lebih-lebih pada malam hari, tidak usah pakai atribut. Kami khawatir pemakaian atribut itu bisa memancing masalah," ujar Surtono kepada Solopos.com, Rabu (30/9/2020).

Surtono mengakui motif di balil dua warga PSHT Sragen dikeroyok masih belum jelas motifnya. Dia menilai ada pihak yang berusaha membenturkan PSHT dengan ormas lain supaya konflik horizontal bisa pecah di Sragen.

Padahal, saat ini PSHT Sragen Parluh 16 tetap berusaha menjaga situasi lingkungan masyarakat tetap kondusif mengingat tak lama lagi akan digelar pesta demokrasi yakni Pilkada Sragen 2020 pada Desember mendatang.

Inilah Gua Petilasan Pangeran Mangkubumi di Sragen, Bisa Muat Warga Satu Kampung!

"Selain tidak memakai atribut saat keluar rumah, saya juga meminta adik-adik saya untuk menghindari kerumunan. Jangan mengumpulkan banyak orang sesama anggota PSHT karena itu bisa memancing masalah. Lebih-lebih sekarang dalam situasi pandemi Covid-19," terang Surtono.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Sragen, AKP Guruh Bagus Eddy Suryana, masih terus berusaha mengungkap kasus penganiayaan terhadap dua warga PSHT parluh 16 tersebut. Berbekal keterangan korban dan sejumlah saksi, polisi optimistis bisa mengungkap siapa yang bertanggung jawab di balik kasus pengeroyokan dua warga PSHT itu.

"Ada petunjuk untuk mengungkap para pelaku. Tapi, saya belum bisa mengungkap apa petunjuk itu karena sekarang masih dalam penyelidikan," jelas Guruh.


Editor : Profile Ginanjar Saputra
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini