19 ABK dan Pejabat Bikin Heboh Pendapa Bupati Sragen

Sebanyak 19 orang anak berkebutuhan khusus (ABK) dari SLB Bagaskara Sragen bersama sejumlah pejabat membuat kehebohan di Pendapa Rumdin Bupati Sragen.
19 ABK dan Pejabat Bikin Heboh Pendapa Bupati Sragen
SOLOPOS.COM - Para ABK bersama Bupati dan pejabat di lingkungan Pemkab Sragen bikin heboh saat bernyanyi dan berjoget bersama di Pendapa Rumdin Bupati Sragen, Senin (6/12/2021). (Solopos.com/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN – Suasana Pendapa Rumah Dinas (Rumdin) Bupati Sragen mendadak heboh. Sebanyak 19 orang anak berkebutuhan khusus (ABK) dari SLB Bagaskara Sragen beratraksi memainkan musik angklung bersama, Senin (6/12/2021).

Dengan alat musik yang terbuat dari bambu itu, mereka menyanyikan tiga buah lagu, yakni Mars Soina, Bengawan Solo, dan Perahu Layar. Para anak tuna grahita dan tuna dan tuna rungu itu bisa memainkan musik angklung dengan kode nada yang disampaikan pelatih yang juga guru SLB Bagaskara Sragen, Agus Sulastyo.

Meskipun dilihat Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati, Sekretaris Daerah (Sekda) Tatag Prabawanto dan para pejabat lainnya serta puluhan tamu undangan, pandangan mereka berkonsentrasi tertuju pada gerakan tangan Agus yang berdiri sembari memainkan organ tunggal (keyboard).

Baca Juga: Bukan Jebakan Tikus, Petani Tanon Sragen Pilih Pasang Pagar Plastik

Jari telunjuk menjadi kode nada do, dua jari telunjuk dan jari tengah jadi kode nada re, tiga jari telunjuk, tengah, dan jari manis jadi kode nada mi, empat jari telunjuk, tengah, manis, dan jari kelingking jadi kode nada fa, lima jari jadi kode nada sol, jari jempol jadi nada la dan khusus jari kelingking jadi dana si.

Yuni, sapaan akrabnya, tampak tertarik dan mempelajari 19 anak yang bemain musik angklung itu dengan kode jari yang diberikan pelatihnya. Ia menikmati lagu Bengawan Solo yang dinyanyikan salah satu siswa SLB Bagaskara Sragen.

Begitu mereka membawakan lagu Perahu Layar dengan iringan musik dangdut menjadi perhatian orang. Sekda meminta Yuni ikut bernyanyi. Awalnya, Yuni tak bersedia. Seorang ibu dari belakang juga menyilakan Bupati itu bernyanyi tetapi masih tak bergeming.

Baca Juga: Viral Video Mesum Sejoli 25 Detik, Diduga Terjadi di Sragen

Setelah sesaat Perahu Layar bergerak, akhirnya Yuni pun berdiri membawa mikrofon dan ikut bernyanyi bersama. Sesaat kemudian, Sekda dan para pejabat lainnya berdiri dan berjoget bersama.

Suasana menjadi heboh karena banyak orang yang berjoget dengan para ABK itu. Agus yang terus memberi kode nada pada anak didiknya harus mengacungkan jari-jarinya lebih tinggi supaya bisa dilihat para siswanya. Yuni menyadari hal itu. Hingga akhir, para siswa SLB itu berhasil dan mendapatkan apresiasi luar biasa.

Penampilan puluhan siswa SLB Bagaskara itu merupakan rangkaian pelantikan pengurus Spesial Olympics Indonesia (Soina) yang dipimpin Tatag Prabawanto. Tatag menjabatan Sekda tinggal 10 bulan. Ia masih dipercaya untuk memimpin Soina Sragen untuk masa bakti 2021-2025.

Baca Juga: Alami Kecelakaan Tunggal di Gemolong Sragen, Warga Plupuh Meninggal

“Di saat menjelang pensiun, saya malah mendapat amanah baru. Saya bersemangat. Yang ditangani anak-anak luar biasa di atas paranormal. Para pengurus harus mendedikasikan dengan sepenuh hati. Mereka berbeda dan membutuhkan perhatian lebih,” ujar Tatag.

Pada momentum itu, Tatag secara spontanitas mengibahkan tunjangan penghasilan pegawai (TPP) satu bulan senilai Rp10 juta. Para pengurus Soina pun bergembira dengan bertepuk tangan.

Ketua Soina Provinsi Jawa Tengah, Fatmaningrum, mengatakan banyak ABK asal Sragen yang mengharumkan nama Jawa Tengah ke tingkat nasional, bahkan sampai mengikuti kejuaraan di luar negeri. Meskipun intelektual mereka terbatas, kata dia, mereka memiliki bakat yang luar biasa.

Baca Juga: Jelang Momen Nataru, Bupati Sragen: Jangan Abai Prokes!

Pelatih seni SLB Bagaskara Sragen, Agus Sulastyo, menyampaikan untuk mengenalkan anak-anak tuna grahita, tuna rungu, terhadap alat music angklung itu membutuhkan waktu 2-3 bulan. Dia mengatakan selama mereka mampu menghafal kode nada maka mereka bisa memainkan lagu. Agus menggunakan jari-jari dan gerakan tangannya sebagai kode nada.

“Kadang mereka tidak tahu nada apa yang dimainkan. Mereka hanya melihat gerakan tanganku baru mereka menggerakan alat musiknya. Kalau dilatih terus mereka bisa bermain musik apa pun. Bahkan ada anak autis yang bisa membaca Alquran,” ujarnya.


Berita Terkait
    Promo & Events
    Honda Motor Jateng
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago