top ear
Munipah, pemulung yang kehilangan bayi kembarnya akibat tabrak lari di Jl Piere Tendean, Solo, beberapa waktu lalu. (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)
  • SOLOPOS.COM
    Munipah, pemulung yang kehilangan bayi kembarnya akibat tabrak lari di Jl Piere Tendean, Solo, beberapa waktu lalu. (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)

15 Tahun Menunggu Punya Anak, Pemulung Solo Ini Malah Keguguran Gara-Gara Tabrak Lari

Pasutri pemulung Solo korban tabrak lari kehilangan bayi mereka setelah penantian selama 15 tahun untuk punya anak.
Diterbitkan Selasa, 29/09/2020 - 16:43 WIB
oleh Solopos.com/Ichsan Kholif Rahman
2 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Pasangan suami istri (pasutri) pemulung, Duri, 55, dan Munipah, 48, kehilangan dua bayi kembar mereka gara-gara menjadi korban tabrak lari di Jl Piere Tendean, Nusukan, Solo, dua pekan lalu.

Padahal, mereka sudah menunggu selama 15 tahun untuk memiliki anak tersebut. Tragisnya lagi, bayi kembar tinggal tiga hari lagi lahir ke dunia saat pasutri pemulung jadi korban tabrak lari mobil.

Peristiwa itu terjadi saat pasutri itu hendak pulang ke gubuk mereka seusai mencari rongsokan menjelang azan Subuh berkumandang.

Bawaslu Solo Minta Paslon 01 Dan 02 Laporkan Agenda Kampanye

Kepada Solopos.com, Duri, pemulung Solo yang jadi korban tabrak lari itu, menyampaikan telah menikah dengan Munipah sudah 15 tahun. Namun, baru tahun ini penantian mereka untuk punya anak dikabulkan Tuhan.

“Kurang tiga hari istri saya melahirkan, namun Gusti berkehendak lain. Dua anak kembar laki-laki saya meninggal dunia beberapa saat seusai kecelakaan,” papar Duri, beberapa waktu lalu.

Terseret

Duri dan istrinya yang tengah hamil tua tertabrak mobil berwarna hitam dari arah selatan ke utara. Sang istri, Munipah bahkan sempat terseret mobil itu sebelum terkapar di jalan.

Perempuan Kadipiro Jadi Pasien Ke-29 Solo Yang Meninggal Setelah Terpapar Covid-19

Saat kejadian tabrak lari itu, Duri belum sempat menjual rongsokan hasil kerjanya sebagai pemulung di Solo. “Saat di rumah sakit, saya cuma bawa uang Rp5.000. Saya sangat lapar sekali, saya juga ingin membelikan istri saya minuman. Tetapi tidak bisa, saya sempat ditanyai dokter apa sudah makan. Ya saya menjawab belum, lalu saya diberi uang untuk makan,” imbuh Duri.

Usai perawatan medis selesai, dua bayi kembarnya yang meninggal dibawa ke Kediri untuk dimakamkan. Duri memang berasal Kediri, Jawa Timur. Ia mengaku tak menuntut banyak atas peristiwa tabrak lari yang menimpanya.

Pjs Bupati Klaten Melarang Pengumpulan Massa untuk Kampanye

Pemulung Solo itu pun tak melaporkan peristiwa tabrak lari itu ke Polresta Solo. Ia tak mengharap pelaku datang meminta maaf atau sekadar memberikan tali asih. Ia tak mengharapkan itu semua.

Ia hanya meyakini segala yang ada dunia pasti ada balasnya. Entah langsung, entah suatu saat nanti. Ia menambahkan saat ini bantuan dari sukarelawan terus mengalir. Pemerintah Kelurahan Nusukan pun sudah berkunjung ke kamar indekos yang ia sewa.


Editor : Profile Suharsih
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini