[ X ] CLOSE

15 Dokter Anak di Jateng Terpapar Covid-19

Sebanyak 15 dokter anak di Jateng terpapar Covid-19. Diduga tertular dari pasien anak yang positif Covid-19.
15 Dokter Anak di Jateng Terpapar Covid-19
SOLOPOS.COM - Ilustrasi nakes Corona. (Detik.com/Getty Images/iStockphoto)

Solopos.com, SEMARANG – Sebanyak 15 dokter spesialis anak di Jawa Tengah (Jateng) terkonfirmasi positif Covid-19. Hal itu diungkapkan Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jateng, dr. Fitri Hartanto, kepada Semarangpos.com, Rabu (23/6/2021).

“Ini tenaga medis itu sudah kewalahan menangani Covid-19. Bahkan, laporan yang masuk ke kami ada 15 dokter anak yang terkonfirmasi Covid-19. Itu belum yang rekan sejawat [tenaga kesehatan],” ungkap Fitri.

Ia tidak mengetahui penyebab pasti dari mana 15 dokter anak di Jateng itu terpapar Covid-19. Namun, ada kemungkinan para dokter anak ini terpapar Covid-19 dari pasien.

Baca Juga: Gubernur Ganjar: Baru Kudus yang Terpapar Covid-19 Varian Delta

Berdasarkan data IDAI Jateng, hingga 20 Juni 2021 sudah ada 7.378 anak di Jateng yang terpapar Covid-19. Dari jumlah sebanyak itu, 382 anak merupakan bayi yang baru lahir atau berada di bawah usia 1 bulan. Sedangkan angka kematian yang dialami mencapai 55 anak.

“Itu laporan yang kami kumpulkan dari para anggota sejak bulan 5 [Mei 2021]. Jumlahnya sangat tinggi,” ujar Fitri.

Fitri pun meminta para orang tua lebih waspada dalam menjaga anak-anaknya dari bahaya virus Corona. Hal itu karena anak-anak juga rentan terhadap penularan Covid-19.

Kurang Tegas

Orang tua atau yang memiliki anak di rumah diimbau untuk menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat dan disiplin. Selain itu, anak-anak juga tidak dibiasakan untuk keluar rumah, terlebih diajak bepergian ke tempat-tempat keramaian, seperti mal maupun objek wisata.

“Ini perlunya edukasi terhadap orang tua. Kalau anak belum terlalu paham tentang prokes. Orang tuanya yang harus kita edukasi agar lebih paham dan meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya Covid-19,” imbuhnya.

Ia juga meminta pemerintah lebih tegas dalam menerapkan kebijakan pencegahan penularan Covid-19. Salah satunya dengan meminimalisasi kerumunan masyarakat yang bisa memicu munculnya klaster penularan.

“Pemerintah saat ini masih kurang tegas. Contohnya kita masih bisa menemukan orang-orang berkerumun di warung-warung makan di pinggir jalan. Harusnya, kalau ada penegakan yustisi itu dibubarkan. Tapi, kenyataannya masih banyak,” kata Fitri.



Berita Terkait
    Promo & Events
    Ekspedisi Ekonomi Digital 2021
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago