JIBIPhoto
Anggota Polres Karanganyar memberikan bantuan berupa sembako kepada warga Dusun Soko, Desa Kalijirak, Tasikmadu, Sulasmi, 60, pada Rabu (14/2/2018). (Sri Sumi Handayani/JIBI/Solopos)

Kisah Nenek-Nenek Sebatang Kara Tasikmadu Karanganyar dan Anjingnya yang Setia

Seorang nenek-nenek sebatangkara di Tasikmadu hidup hanya berkawan anjing kampung.

Solopos.com, KARANGANYAR — Perempuan itu mengenakan serban berwarna hijau tosca dengan manik-manik warna emas di bagian depan. Dia duduk di kursi panjang di teras samping rumahnya.

Seekor anjing kampung warna cokelat bermalas-malasan di bawah kursi. Si anjing sontak mengangkat kepala saat serombongan orang menuju rumah majikannya.

Perempuan berserban tadi berdiri menyambut. Dia ulurkan dua tangan ke arah rombongan orang yang datang. Sulasmi adalah nama perempuan warga Dukuh Soko, RT 002/RW 005, Desa Kalijirak, Tasikmadu, Karanganyar, itu. Usianya sudah 60 tahun dan tinggal sebatang kara di rumah berdinding batako di tepi Sungai Kalijirak.

“Ibu saya meninggal satu tahun lalu karena kecelakaan. Sejak itu saya seorang diri. Bapak meninggal sejak saya kecil. Nggih namung kalih segawon niki. Depi asmane. Dingge kanca hla kiyambak [Ya hanya bersama anjing ini. Depi namanya. Buat teman daripada sendirian],” kata Sulasmi saat berbincang dengan wartawan di dalam rumahnya, Rabu (14/2/2018).

Sulasmi mengaku penglihatannya sudah kabur alias tidak jelas. Dia pun meminta maaf apabila tidak menatap mata lawan bicara saat berbincang. Informasi yang didapat Solopos.com, Sulasmi mengalami glaukoma.

Sebelum menderita glaukoma, Sulasmi didiagnosis mengidap diabetes. Dia rawat jalan. Setiap satu bulan, dia ke RSUD Karanganyar untuk mengecek kesehatan.

“Diantar Bu Fatkul ke rumah sakit. Naik motor. Sudah lima tahun ini bolak-balik ke RSUD Karanganyar,” tutur dia.

Perempuan yang dia panggil Bu Fatkul ini adalah Catur Maryati. Dia istri Babinsa Desa Kalijirak, Serda Fatkul Hadi. Jarak rumah Catur dengan Sulasmi sekitar 300 meter. Setiap bulan, ibu rumah tangga itu mengantar Sulasmi ke RSUD Karanganyar.

“Besok Jumat [16/2/2018] itu kontrol lagi. Ya saya antar. Hla saya hanya ibu rumah tangga. Enggak bisa bantu uang. Saya hanya bisa bantu dengan tenaga,” ujar dia sambil sesenggukan.

Catur mengaku terenyuh setiap kali mengingat kisah masa kecil Sulasmi. Kisah Sulasmi dia dengar dari orang tuanya.

“Waktu kecil itu, kata orang tua saya, Mbah Sulasmi ini sering ngasak singkong. Ambil singkong yang enggak layak jual. Hidupnya susah sejak kecil,” tutur dia.

Secercah harapan muncul pada 2013. Rumah yang berdiri di sebidang tanah di tepi Sungai Kalijirak diperbaiki melalui program perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH). Tetapi, kondisi kayu yang sudah lapuk membuat genting rumah bagian tengah nyaris ambruk. Warga sekitar berinisiatif membuatkan sepetak ruang untuk tidur dan aktivitas lain.

Bangunan lain di tepi sungai yang belum direnovasi dimanfaatkan sebagai dapur. Tanah tempat Sulasmi mendirikan rumah itu miliknya sendiri, tetapi dia mengaku tidak memiliki dana untuk balik nama.

“Dulu waktu masih sehat, saya merantau ke mana-mana. Pernah ke Sumbawa. Uang saya tabung untuk beli tanah. Tapi belum sempat saya balik nama, hla mahal,” cerita dia.

Glaukoma dan diabetes membuat aktivitasnya terbatas. Sulasmi tidak bisa bekerja seperti dulu. Bahkan dia tidak bisa memelihara kambing karena kesulitan mencari pakan. Untuk sekadar memasak di dapur pun dia harus mengandalkan tangan. Perempuan sebatangkara itu menggunakan tungku dari batu bata yang dipoles semen.

Mboten ketingal. Nggih digrayahi. Tangan sing setunggal nyumet geni ngagem kertas. Tangan sing setunggale grayah-grayah. Geni mpun murup nopo dereng. Nggih panas, hla pripun mboten ketingal [Tidak kelihatan. Ya diraba-raba. Tangan yang satu menyalakan api pakai kertas. Tangan satunya meraba-raba api sudah menyala atau belum. Ya panas, tapi bagaimana lagi wong tidak terlihat],” tutur dia.

Menurut Catur, dokter di sejumlah rumah sakit angkat tangan. Mereka tidak bisa mengoperasi mata Sulasmi karena penyakit sudah menyerang saraf. Bahkan, dokter dari RSUD Karanganyar pun sudah datang mengecek dan hasilnya sama.

Apabila tidak memiliki bahan makanan, Sulasmi mengandalkan bantuan dari tetangga terdekat. “Sederek sing welas asih [tetangga yang penuh kasih]. Sedaya mawon, matur sembah nuwun. Nyuwun pangapunten [Semuanya saja, terima kasih. Mohon maaf],” ungkap dia.

Anjing kampungnya masuk rumah dan bersembunyi di bawah tempat tidur. Sulasmi bercerita tentang anjing yang dia beri nama Depi itu. “Niku kanca. Kala mben mundhut Rp25.000 taksih alit. Beranak tiga kali total 17 ekor. Kula sade Rp1,2 juta. Si Depi niku nggih kula sade teng Batu Jamus mriko pajeng Rp400.000. Hla balik mriki malih seminggu bibar kula sade [Itu teman. Dulu saya beli Rp25.000 saat masih kecil. Sudah beranak tiga kali 17 ekor. Saya jual laku Rp1,2 juta. Si Depi itu juga saya jual ke Batu Jamus sana laku Rp400.000. Tapi balik lagi ke sini sepekan setelah saya jual],” ungkap dia.

Si anjing itu kembali kepada majikan yang memberinya makan. Menurut Sulasmi, apa yang dia makan juga diberikan kepada Depi. Seperti sayur singkong, oseng pare, dan lain-lain. Depi akan menjadi penunjuk jalan pulang ke rumah.

Rok kula niki dicokot. Dia mlaku mundur [Rok saya ini digigit. Dia jalan mundur]. Saya diarahkan ke rumah. Supaya saya enggak salah jalan dan nabrak-nabrak.”

Wakapolres Karanganyar, Kompol Dyah Wuryaning Hapsari, didampingi Kasat Binmas Polres Karanganyar, AKP Suwarsi, bersama sejumlah anggota Polres memberikan bantuan sembako kepada Sulasmi. Mereka bermaksud berbagi kasih sayang dengan perempuan sebatangkara itu.

“Ini kegiatan rutin, peduli kepada sesama. Hasil giat sambang, patroli, dan koordinasi dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Mbah Sulasmi ini sebatang kara, tidak punya anak. Dia menggantungkan hidup dengan tetangga. Kami memberikan sedikit rezeki mudah-mudahan bermanfaat,” tutur Wakapolres mewakili Kapolres Karanganyar, AKBP Henik Maryanto.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Komentar

Menarik Lainnya

JIBIPhoto

PENCURIAN KARANGANYAR
Komplotan Pencuri Belasan Aki BTS Terbongkar, Begini Sepak Terjangnya

JIBIPhoto

Kebanan saat Melintas di Jumapolo Karanganyar, Polisi Penolong Siap Bantu

JIBIPhoto

Begini Cerita di Balik Video “Pelakor” yang Dilempari Uang Istri Sah

JIBIPhoto

Tiang Proyek Tol Becakayu Jakarta Roboh Timpa 7 Pekerja, Ini Kronologinya

JIBIPhoto

Gadis Lumpuh Asal Sukoharjo Ini Rajin Baca Alquran

JIBIPhoto

Niat Cari Harimau Jadi-Jadian, Pria Ini Diterkam Harimau Betulan

JIBIPhoto

Baru Kali Pertama Mandi di Sungai Batanghari, Hofsyah Hilang Diterkam Buaya