JIBIPhoto
Pegawai Perum Bulog mendata beras hasil serapan di Gudang Induk Bulog Katonsari, Demak, Jateng, Selasa (11/4/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Aji Styawan)

Harga Melambung, Pemerintah Impor 500.000 Ton Beras

Harga beras dalam beberapa hari terakhir melambung.

Solopos.com, JAKARTA — Pemerintah akan melakukan impor beras tanpa menggunakan biaya APBN. Impor 500.000 ton itu dilakukan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan impor beras khusus sebanyak 500.000 ton yang didatangkan dari Vietnam dan Thailand pada akhir Januari nanti dilakukan tanpa menggunakan biaya APBN.

Dalam bincang siang bersama media di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat, Enggar mengatakan impor beras dilakukan dan didistribusikan oleh PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) dengan bermitra bersama perusahaan beras lainnya.

“Tidak ada dana APBN. Itu pasti. PPI menjadi pintu sehingga kami bisa mengatur. Mereka bisa bermitra dengan pengusaha beras,” kata Enggar, Jumat (12/1/2018) sebagaimana dikutip dari Kantor Berita Antara.

Ia menjelaskan Kementerian Perdagangan menugaskan perusahaan BUMN tersebut untuk melakukan impor beras. Mekanisme distribusi beras ke pasaran juga akan dilakukan dengan memakai jaringan PPI.

Menurut dia, keputusan untuk melakukan impor beras dilakukan setelah pemerintah, Satgas Pangan dan Bulog melakukan operasi pasar (OP) sejak November-Desember 2017 untuk menekan harga beras medium yang kian meningkat.

Dampak dari OP nyatanya tidak terlalu memberi pengaruh signifikan terhadap penurunan harga, bahkan puncaknya pada awal Januari 2018, harga beras medium berada pada kisaran Rp11.000 per kilogram, atau di atas HET yang ditentukan yakni Rp9.450 untuk wilayah Jawa.

“Dampaknya tidak nendang. Tidak memberikan penurunan harga. Bahkan, memang sesaat terjadi stagnan tidak naik, kemudian terjadi kenaikan sedikit, dan awal Januari terus meningkat secara tajam,” ungkapnya.

Enggar menambahkan jenis beras yang diimpor bukanlah jenis beras premium, melainkan beras khusus yang tidak ditanam di dalam negeri dan nantinya dijual sesuai dengan harga beras medium, seperti yang diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 1/2018 tentang Ekspor dan Impor Beras.

Penugasan oleh PPI bertujuan agar harga beras khusus yang masuk ke pasaran dapat dikendalikan atau dijual sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) beras medium, yakni Rp9.450,00 per kilogram.

“Dijual dengan harga medium, di sana harganya lebih murah impor itu. Kami sudah sepakati untung tidak boleh gede-gede,” kata Enggar.

lowongan pekerjaan
SMK CITRA MEDIKA SRAGEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Komentar

Menarik Lainnya

JIBIPhoto

Ini Penyebab Tingginya Harga Daging Ayam di Jogja

JIBIPhoto

KOMODITAS PANGAN
Kualitas Beras Lebih Bagus, OP Karanganyar Diserbu Pembeli

JIBIPhoto

DISTRIBUSI BERAS
Begini Tanggapan Bulog Jateng Soal Penyelundupan Beras di Semarang

JIBIPhoto

ESPOSPEDIA
Data Fakta Seputar Beras Bulog

JIBIPhoto

Wali Kota Semarang Serukan Penghentian Polemik Beras Impor, Begini Alasannya...

JIBIPhoto

Gubernur Jateng Lebih Tegas, Berani Bilang Jateng Tak Butuh Beras Impor

JIBIPhoto

Beras Bulog di Operasi Pasar Karanganyar Dikomplain karena Tak Beda dengan Rastra