JIBIPhoto
Juliyatmono menunjukkan surat rekomendasi DPP Partai Golkar di Karanganyar, Senin (8/1/2018). (Ponco Suseno/JIBI/Solopos)

PILKADA 2018
Bupati Karanganyar Juliyatmono Angkat Bicara soal Perpecahan Yuro

Bupati Karanganyar Juliyatmono mengaku tetap menganggap Rohadi Widodo sebagai kawan politik.

Solopos.com, KARANGANYAR — Sehari setelah menerima rekomendasi dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP sebagai calon bupati (cabup) Karanganyar dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018, Juliyatmono mulai membuka diri dan bicara blak-blakan, termasuk soal pecahnya kongsinya dengan Rohadi Widodo.

Pada Pilkada 2013 lalu, Juliyatmono berpasangan dengan Rohadi Widodo membentuk akronim Yuro sebagai branding kampanye. Mereka memenangi pilkada itu sehingga Juliyatmono menjadi bupati sedangkan Rohadi Widodo yang merupakan politikus PKS menjadi wakil bupati.

Namun, keduanya pecah kongsi pada Pilkada tahun ini setelah Juliyatmono mendapat dukungan dari PDIP dan kemungkinan akan berpasangan dengan politikus PDIP sebagai cabup-cawabup. Di hadapan awak media, Senin (8/1/2018), Juliyatmono yang mengenakan pakaian warna putih menjelaskan secara gamblang penyebab pecahnya Yuro. (Baca: PKS Karanganyar Merasa Ditinggal Juliyatmono, Yuro Pecah?)

Juliyatmono yang juga ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Karanganyar itu membantah bubarnya Yuro karena ia nilapke (meninggalkan) Rohadi Widodo dan PKS. Juliyatmono mengaku masih menganggap Rohadi Widodo sebagai kawan politik yang baik.

Juliyatmono menyanjung kinerja Rohadi Widodo yang dinilai sebagai pribadi energik, tidak mengenal lelah, dan hobi berolahraga. Sepanjang melaksanakan amanah rakyat sebagai Yuro, hubungan Juliyatmono dengan Rohadi Widodo berjalan harmonis. Sembari menjelaskan tentang kesolidannya, Juliyatmono membawa dua surat di tangannya.

Satu surat berupa surat dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar bernomor R-619/Golkar/XII/2017 tertanggal 30 Desember 2017 tentang Perubahan Pengesahan Paslon Kepala Daerah Karanganyar. Surat dari DPP Partai Golkar itu ditujukan kepada ketua DPD Partai Golkar Karanganyar.

Surat lainnya, yakni surat rekomendasi terbaru yang ditandatangani Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto dan Sekjen DPP Partai Golkar Idrus Marham. “Saya berpasangan dengan Pak Rohadi Widodo sejak Pilkada 2013. Kami cukup nyaman dan saling melengkapi. Saya sendiri tidak pernah mengubah sikap saya. Hingga akhirnya turun surat dari DPP Partai Golkar ini yang menjadi hasil munaslub. Sebagai kader, saya harus mengikuti mekanisme organisasi. Tidak ada pengkhianatan di sini. Saya pun belum pernah menjalin komunikasi secara intens dengan PDIP sebelum turunnya rekomendasi terbaru,” kata Juliyatmono. (Baca: Dukungan Partai Demokrat Bikin Peluang Menang Juliyatmono Kian Besar)

Juliyatmono mengakui adanya pendukung yang menyayangkan harus menjalankan rekomendasi DPP Partai Golkar. Juliyatmono berharap hal tersebut tak berlarut-larut.

“Setelah turunnya rekomendasi itu, saya belum berkomunikasi dengan Pak Rohadi Widodo. Setelah ini nanti saya akan menjalin komunikasi. Saya akan jelaskan semuanya dengan terperinci. Saya dan Pak Rohadi Widodo masih memimpin di Karanganyar hingga akhir 2018. Komunikasi juga saya jalin dengan berbagai parpol di Karanganyar,” katanya.

Juliyatmono mengaku sangat siap dipasangkan dengan kader PDIP Karanganyar, Rober Christanto, di Pilkada 2018. Juliyatmono pun sudah berbicara empat mata dengan Rober Christanto guna menyusun strategi berikutnya.

Hal itu termasuk melanjutkan berbagai program yang sudah bagus di era Yuro jika berhasil menang di Pilkada 2018. “Lima program unggulan yang kami miliki akan kami lanjutkan. Kami berencana mendaftarkan sebagai pasangan calon di Pilkada 2018 di kantor Komisi Pemilihan Umum [KPU] Karanganyar, Rabu [10/1/2018] setelah Zuhur. Saya tak terlalu memikirkan apakah di Pilkada 2018 ini sebagai pasangan calon tunggal atau ada lawannya,” katanya.

Selain menjalin hubungan dengan Rober Christanto, Juliyatmono juga sudah menjalin komunikasi yang baik dengan seluruh kader PDIP Karanganyar. Juliyatmono mengapresiasi semangat militansi PDIP untuk tegak lurus terhadap perintah partai.

“Dengan semuanya berhubungan baik, termasuk dengan Pak Paryono. Setiap ada acara jagong, saya juga bertemu,” katanya.

Paryono adalah mantan ketua DPC PDIP Karanganyar yang pernah menjadi rival Juliyatmono di Pilkada 2013.

Berbeda dengan Juliyatmono, sampai sekarang Rohadi Widodo masih bungkam saat ditanya sikap politiknya di Pilkada 2018. Saat Solopos.com, menghubungi Rohadi Widodo via telepon seluler (ponsel), yang bersangkutan tidak merespons.

Di sisi lain, Rober Christanto mengaku sudah siap mendampingi Juliyatmono di Pilkada 2018. “Sebelum rekomendasi itu turun, saya juga sudah bertemu dengan Pak Juliyatmono. Saya juga sudah dihubungi DPP PDIP terkait hal itu,” katanya.

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU BEJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Komentar

Menarik Lainnya

JIBIPhoto

PILKADA 2018
Bawaslu Bakal Copot Seluruh Papan Reklame Bergambar Ganjar

JIBIPhoto

PILKADA JAWA TIMUR
Emil Dardak Setor LHKPN via Online ke KPK

JIBIPhoto

PILKADA 2018
Siapa Lebih Kaya? Ganjar, Yasin, Sudirman, atau Ida? Ini Catatan Kekayaan Mereka...

JIBIPhoto

PILKADA 2018
Sudirman Said Anggap Petani dan Nelayan Masih Terpinggirkan

JIBIPhoto

Gubernur Jateng Akhirnya Telepon Menteri Pertanian Sikapi Beras Impor

JIBIPhoto

PILKADA 2018
Purnawirawan Rapatkan Barisan demi Sudirman Said di Pilgub Jateng

JIBIPhoto

PILKADA 2018
Datangi KPU, PKS Karanganyar bakal Daftarkan Pasangan Calon?