JIBIPhoto
Ilustrasi internet (Dok/JIBI/Solopos)

Mengejutkan! Ini Hasil Penelitian UMS Soal Radikalisme dalam Website dan Media Sosial

Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSB dan PB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) selama September-November 2017 mengadakan penelitian.

Solopos.com, SUKOHARJO — Saat mencari pengetahuan tentang agama Islam, cara berwudlu misalnya, netizen lebih suka meng-klik atau mengakses website Islam unaffiliated dibandingkan website mainstream dan kontemporer.

Para pengguna Internet lebih banyak mengunjungi website Islam unaffiliated atau yang tidak terikat organisasi tertentu dibandingkan website mainstream dan kontemporer. Contoh website Islam unaffiliated adalah Portal Islam, Era Muslim, VOA-Islam, Muslim Moderat, Arrahmah, Thoriquna, Dakwatuna, Harian Amanah, dan Islam Pos.

Yang termasuk website mainstream adalah milik NU, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Wathan, sementara yang kontemporer adalah FUI, Hidayatullah, MTA, dan lainnya.

Dengan kondisi ini maka tokoh paling populer di kalangan warganet adalah pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab dan Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Bachtiar Nasir.

Mereka mampu mengungguli popularitas mantan Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU), K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.

Hal itu terungkap dari hasil penelitian Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSB dan PB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) selama September-November 2017. Hasil penelitian PSB dan PB ini disampaikan dalam Diseminasi Hasil Penelitian Radikalisme dalam Website dan Media Sosial di Gedung Induk Siti Walidah UMS, Pabelan, Kartosuro, Sukoharjo, Senin (27/11/2017).

Koordinator Tim Peneliti PSB dan PB UMS, Yayah Khisbiyah, mengatakan penelitian menyasar 17 website organisasi Islam yang dianggap mewakili kategori mainstream, kontemporer, dan unaffiliated.

“Berdasarkan hasil penelitian ternyata netizen atau warganet dalam mencari sumber berita masalah Islam, semisal Salat Idul Fitri, cara berwudlu, lebih memilih website unaffiliated,” katanya kepada Solopos.com seusai acara.

Lugas dan Tak Rumit

Alasannya bahasa yang digunakan lugas dan tidak rumit sehingga mudah dimengerti dibandingkan dengan portal milik NU dan Muhammadiyah yang menggunakan bahasa terlalu tinggi untuk kalangan umum.

Dari hasil penelitian terungkap jumlah pengunjung portal Era Muslim tercatat sebanyak 9,5 juta, sedangkan NU online hanya 2,1 juta.

“Karena yang sering dibuka adalah portal website unaffiliated maka tokoh yang populer adalah Habib Rizieq,” kata dia.

Untuk itu, Yayah yang juga Direktur Eksekutif PSB dan PB UMS mengimbau NU dan Muhammadiyah memperbaiki cara dakwah di media online agar lebih mudah diterima masyarakat, terutama generasi muda.

“NU dan Muhammadiyah agar meningkatkan kualitas konten yang memberikan nilai-nilai keadilan, perdamaian, serta resolusi konflik tanpa kekerasan,” sarannya.

Sementara itu, salah seorang peneliti dari PSB dan PB, Yeni Prastiwi, mengungkapkan pengertian radikalisme dalam penelitian tidak mengarah kepada terorisme. “Radikalisme dalam arti menginginkan perubahan yang ekstrem,” ungkap dia.

lowongan pekerjaan
PT. INDUKTORINDO UTAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Komentar

Menarik Lainnya

JIBIPhoto

Sulit Tidur Malam? Coba Tulis Rencana Anda Esok Hari

JIBIPhoto

Dua Bangunan Mesir Kuno Ditemukan Aswan

JIBIPhoto

TIPS KARIER
Stres di Kantor? Yuk Hias Ruangan dengan Tanaman

JIBIPhoto

HASIL PENELITIAN
Pekerja Shift Malam Berisiko Tinggi Terkena Kanker

JIBIPhoto

Apel dan Tomat Bersihkan Paru-Paru Mantan Perokok

JIBIPhoto

HASIL PENELITIAN
Konsumsi Ikan Tingkatkan Kualitas Tidur dan IQ

JIBIPhoto

Ilmuwan Kembangkan Teknologi Pendeteksi Kebohongan