JIBIPhoto
Ilustrasi (mcna.com.au)

TIPS PARENTING
Rambu-Rambu Membesarkan Anak Tunggal

Tips parenting ini terkait kiar membesarkan anak tunggal.

Solopos.com, SOLO — Hidup dengan keluarga kecil memiliki perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan membesarkan anak dalam keluarga besar. Keduanya punya sisi plus dan tantangan sendiri.

Profesor pediatri dari University of California di San Fransisco Amerika Serikat, J. Lane Tanner, menyebutkan anak tunggal memerlukan aktivitas sosial lebih banyak mulai usia 18 bulan. Ada beberapa opsi yang bisa dipilih antara lain lewat prasekolah atau kelompok bermain, mengambil kelas hobi khusus, atau bermain dengan sebaya di lingkungan sekitar.

“Saat bermain dengan sebaya, usahakan anak tidak melulu bermain di rumahnya. Tapi anak perlu diajak keluar untuk mengikuti aturan di luar rumah seperti dia harus bersedia berbagi mainan dan tidak terus-menerus mendapat perhatian orang tua,” terangnya seperti dikutip Parents.com, Kamis (5/10/2017).

Pengarang buku Birth Order Blues Meri Wallace mengutarakan anak tunggal penting memiliki kemampuan sosial. Anak lebih dari satu umumnya punya pengalaman sosial lewat hubungan dengan saudaranya. Mereka jadi punya pengalaman kalah dalam permainan, mengantre giliran, bagaimana bergabung dengan sebuah kelompok.

“Agar anak tunggal bisa berhasil secara sosial, orang tua perlu memberikan contoh bagaimana caranya berbagi, berkompromi, dan mempertimbangkan orang lain. Jangan lupa berikan penghargaan kepada anak ketika mereka bisa melakukannya dan berikan teguran kalau gagal,” jelas Wallace.

Selain interaksi sosial, Wallace menuturkan pentingnya melatih kemandirian anak tunggal. Beberapa anak tunggal dibesarkan terlalu dekat dan bergantung dengan orang tuanya mulai dukungan moral, membantu mengerjakan PR, dan sebagainya. Akhirnya banyak orang tua tidak sadar telah mendidik generasi manja.

“Orang tua bisa mulai melatih kemandirian anak dengan memberikan anak tunggalnya tanggung jawab. Anak tunggal juga perlu bisa mengurus dirinya sendiri dan bisa bersenang-senang sendiri. Tidak bisa terus-menerus bergantung pada orang tuanya,” kata dia.

Sedangkan penulis buku Keys to Parenting an Only Child, Carl E. Pickhardt, PhD, menyebut anak tunggal dekat sifat perfeksionis. Banyak anak tunggal yang sejak kecil terbiasa disebut sebagai satu-satunya harapan dalam keluarga. Akhirnya, bawah sadar mereka menjadi punya standar tinggi bagi dirinya. Anak-anak usia 7 atau 8 pun banyak yang bertingkah seperti orang dewasa.

“Jangan menekankan anak tunggal untuk tumbuh sempurna. Banyak anak yang ingin menyenangkan orang tuanya. Mereka jadi tumbuh sesuai standar orang dewasa. Sebenarnya wajar untuk menginginkan yang terbaik bagi buah hati. Tapi yang perlu diingat, jangan menurunkan obsesi orang tua kepada anak,” pesan Pickhardt.

Pickhardt juga mengamati kecenderungan banyak anak tunggal yang terus-menerus diberikan hadiah dan permintaannya dipenuhi. Sehingga anak tumbuh menjadi pribadi yang selalu mendapatkan apa yang diinginkan.

“Tidak ada kata terlambat untuk berhenti memanjakan anak. Pertama-tama memang pasti anak akan protes, tapi pertimbangkan dampak jangka panjangnya. Sejatinya setiap anak membutuhkan perhatian, bukan pemberian hadiah dalam wujud materi,” kata dia.

lowongan pekerjaan
Perusahaan Outsourcing PLN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Komentar

Menarik Lainnya

JIBIPhoto

TIPS PARENTING
Yuk, Ajak Buah Hati Bikin Resolusi Menjelang Tahun Baru

JIBIPhoto

TIPS PARENTING
Cara Jalin Komunikasi Efektif Ortu dengan Anak Remaja

JIBIPhoto

TIPS ASUH ANAK
Mom, Ini 3 Manfaat Squishy dan Fidget Spinner Buat Si Kecil

JIBIPhoto

TIPS PARENTING
Jangan Terlalu Bebani Anak dengan Kegiatan Luar Sekolah

JIBIPhoto

TIPS PARENTING
Ingin Program Hamil? Perhatikan Dulu Berat Badan

JIBIPhoto

GAGASAN
Ayah, Spirit Cinta, dan Kepahlawanan

JIBIPhoto

ESPOSPEDIA
Inilah Tanda-Tanda Anak Mulai Stres