tas-106-s-0003-tas-magic-lipat-600x432
JIBIPhoto
Sri Mulyono, warga Cemani, Grogol, Sukoharjo ini akan berangkat umrah Maret mendatang dengan biaya hasil menabung selama belasan tahun. (Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos)

KISAH INSPIRATIF
Nabung Belasan Tahun, Tukang Becak Asal Sukoharjo Berangkat Umrah

Kisah inspiratif dari seorang pengemudi becak yang akan berangkat umrah.

Solopos.com, SOLO — Niat dan usaha yang gigih bisa membawa seseorang berhasil mewujudkan cita-cita mereka. Demikian pula dengan Sri Mulyono, warga Cemani, Grogol, Sukoharjo yang mampu membayar biaya umrah untuk pemberangkatan Maret 2017 mendatang dari hasil kegigihannya bekerja.

Meski sebagai tukang penarik becak yang pendapatannya tak tentu, Sri Mulyono yang akrab disapa Uut ini rajin menabung sedikit demi sedikit demi mewujudkan niatnya beribadah ke Tanah Suci yang biayanya lumayan banyak. Meski dia harus menunggu selama belasan tahun sampai biaya umrah itu cukup, namun yang penting baginya niat itu dapat ditunaikannya.

“Dulu ketika timbul niat ibadah umrah, saya tidak tahu kapan itu akan terwujud. Tapi dengan keyakinan bahwa saya bisa, saya tidak masalah harus menunggu lama,” ujar Sri Mulyono saat dijumpai Solopos.com di sekitar lokasi mangkalnya di Jl. KH. Samanhudi, Solo kawasan pondok pesantren Ta.mirul Islam, Mangkuyudan, Sabtu (7/1/2016).

Uut menyadari biaya umrah tersebut hanya bisa ia peroleh dengan cara menabung. Tapi hal itu juga tidak ia capai dengan mudah. Apalagi dia juga harus menghidupi anak dan istrinya.

Ia harus berjuang dari pagi sekitar pukul 05.30 WIB hingga larut malam setiap hari untuk menunggu penumpang yang akan menggunakan jasanya. Pernah beberapa kali tidak ada satu pun penumpang yang menghapirinya. Baginya, hal itu sudah menjadi risiko pekerjaan.

Hati mulia pun ditunjukkan laki-laki kelahiran 1961 ini. Ketika hasil tarikan tak begitu banyak, dia lebih baik menyedekahkan uang itu kepada orang yang lebih membutuhkan.

“Kalau hasilnya sedikit, kadang saya kasihkan kepada pengemis yang kondisinya payah. Saya yakin Allah akan menggantinya. Dan benar saja, besok-besoknya penumpangnya banyak,” kata dia.

Berbagi

Pada saat penumpang banyak dan pendapatannya lebih, saat itulah sebagian uangnya ia tabung. Cara menabungnya juga terbilang unik. Dia mengumpulkan sendiri uang itu hingga di atas Rp500.000. Tak peduli butuh berapa lama untuk mendapat uang sebanyak itu.

Jika sudah terkumpul, dia akan berhutang kepada saudaranya senilai uang tersebut. “Supaya saya tetap semangat bekerja, saya berhutang dulu kepada saudara,” kata dia. Lalu uang utangan itu ia titipkan kepada salah seorang ibu yang rumahnya tak jauh dari tempat ia mangkal.

Setelah belasan tahun, pekan lalu tabungannya mencapai Rp24juta sehingga ia memberanikan diri mendaftar umrah ke Biro Haji dan Umrah Ta’mirul Islam Al Mabrur tak jauh dari tepat dia mangkat. “berangkatnya Maret. Semoga lancar,” ucap Uut sambil pamit untuk salat Asar.

Direktur Biro Haji dan Umrah Ta’mirul Islam Al Mabrur, Nurrohmat saat dujumpai di kantornya mengatakan Uut sudah melakukan pembayaran pada 6 Januari lalu. “Ya. Pak Uut sudah membayar biaya umrah kepada kami tanggal 6 Januari lalu,” kata dia.

Nurrohmat menambahkan, biaya umrah sebenarnya Rp24,5 juta belum termasuk biaya pengurusan paspor dan vaksin meningitis. “Tapi setelah kami berkonsutlasi dengan pimpinan pondok, kami sepakat membantu Pak Uut dengan melunasi kekurangannya,” imbuhnya.

Sementara salah seorang warga Mangkuyudan Sri Harjo, mengatakan Uut dikenal sebagai tukang becak yang baik karena suka membantu orang lain dengan caranya sendiri. “Kadang dia tidak mau dibayar karena yang diantar terlihat kurang mampu.”

 

lowongan kerja
lowongan kerja synus, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Komentar